comment 0

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

sumber : dinahanan.wordpress.com

Dilanda oleh rasa penasaran. Ajo Kawir mengikuti ajakan temannya Si Tokek untuk melihat (lebih tepatnya mengintip) rumah Rona Merah. Wanita sinting yang suka mengamuk dan ditinggal mati suaminya. Rumah ini berada satu desa, namun cukup jauh dengan daerah pemukiman.

Melalui lubang kusen jendela dapur yang telah dibuat Si Tokek sebelumnya, Ajo Kawir mencoba melihat ke dalam rumah Rona Merah. Tampak hanya ada kursi, pakaian, meja terbalik dan beberapa sampah yang tidak juga dibereskan. Sementara itu, hujan rintik di luar. Udara menjadi dingin. Ajo Kawir dan Si Tokek makin merapat ke dinding rumah. Menghindari cipratan gerimis yang tak kunjung reda sembari tetap mengintip dan makin penasaran.

Tidak berapa lama, dua polisi datang. Pikir aneh batin Ajo Kawir. Sebab, tidak banyak orang yang sering berkunjung ke rumah Rona Merah. Sekalipun ada, itu adalah Wa Sami. Ibu Si Tokek untuk memberikan beras di depan pintu. Pikir aneh semakin besar ketika dua polisi yang dilihat memiliki kunci untuk masuk ke dalam rumah Rona Merah.

Berawal dari malam mencekam itu, sesuatu yang luar biasa terjadi pada Ajo Kawir. Sesuatu besar yang merubah si kecil dan masa depan serta filosofi hidup Ajo Kawir. Menjadikan Ajo Kawir lelaki paling sial se-dunia juga bijak setelahnya.

Melalui dialog penyakit Ajo Kawir. Eka mencoba (saya pikir sih) meng-alegoriskan insiden itu pada kehidupan nan damai, tenang tanpa pertikaian. Novel ini juga secara tersirat dan vulgar memperjelas celah-celah persahabatan, kondisi zaman, dan kebrutalan pada masanya. Gaya bahasa yang tidak pandang bulu ‘kasar’ maupun ‘halus’ sesuai pada stratifikasi sosialnya masing-masing adalah unik, sayangnya, tidak semua umur bisa baca novel ini (21+).

Lalu, interpretasi akan novel ini sangat beragam. Beberapa orang meng-internalkan konsep maskulinitas dan patriarki kaum pria pada novel ini. Beberapa kritik pada karya Eka (sebelumnya Cantik itu Luka) kerap muncul. Tidak semua orang cocok dengan novel ini.

“Dan jika kita tahu ada cara untuk membuatnya adil, kita layak untuk membuatnya jadi adil.” (Hlm 48)

Tinggalkan Balasan