comment 0

Seandainya Saya Wartawan Tempo -Sebuah Review-

Sumber : Google

Apa jadinya jika saya atau (kamu) menjadi seorang wartawan? Setidaknya, itulah pertanyaan yang muncul saat saya pertama kali mengetahui buku ini. Dengan visual cover buku yang enteng yang juga memberikan banyak ruang-ruang putih serta gambar kamera dan kumpulan huruf-huruf yang acak semakin menggarisbawahi bagaimana fungsi seorang jurnalis. Ditambah, tulisan di bawahnya bernama Goenawan Mohamad: seorang pendiri majalah Tempo.

Di awal. Goenawan memaparkan sejarah singkat bagaimana Tempo terbit ke permukaan. Tentang kebodohannya akan penyusunan jenjang karir juga penyusunan gabungan foto, karya grafis, dan juga teks. Sehingga, dia mendatangkan teman kuliahnya dulu bernama George Tiber yang pada saat itu menjabat menjadi Redaktur Senior majalah TIME di New York. Hingga, seorang bernama Nadjib Salim yang membawa buku karangan Daniel R. Williamson tentang feature yang setelahnya menjadi buku pendidikan di tim Tempo.

Goenawan selanjutnya memaparkan definisi dan bagaimana sebuah tulisan feature bekerja. Ini adalah bentuk tulisan yang kreatif dengan tujuan menghibur, membuat senang dan menginformasikan sehingga feature mendapatkan ‘kemewahannya’ sendiri baik itu dalam hal waktu maupun aktualitas. Feature pada bab berikutnya, dijelaskan sebagai tulisan berkisah atau bertutur. Write as you talk, katanya.

Hmm.

Baiklah, terlalu panjang. Buku ini secara general membahas satu topik dalam hal pemberitaan yaitu feature mulai dari bagaimana cara mengail pembaca dengan lead baik itu yang ekspositoris maupun deskriptif. Juga, perihal bagian setelahnya: tubuh dan ekor (penutup sebuah berita). Pemaparan yang lain adalah mengenai senjata dalam membuat feature yang elok nan apik sehingga pembaca yang lewat di halaman koran tidak melakukan skip dan jenuh serta paham maksud dari feature yang dipaparkan. Selain kerangka feature. Buku ini juga sedikitnya membahas bagaimana mencari ide feature yang sederhana namun memikat dan informatif serta pengambian story angel sebuah feature agar tidak terlalu sempit maupun terlalu luas. Di akhir bab, buku ini menjelaskan bagaimana membuat outline yang komprehensif dari hulu hingga hilirnya.

Yang saya suka. Pada beberapa bab yang ada tidak hanya berupa pengertian-pengertian namun disertai contoh tulisan. Apalagi, jika tahu yang menulis adalah seorang Goenawan. Selain itu, diksi dan kumpulan katanya yang ajaib dan asik membuat buku ini nikmat untuk dibaca, saya pun sempat mengulang membaca tiap halamannya untuk dapat meresapi lebih dalam tentang esensi dari apa yang telah ditulis. Goenawan seolah berbicara langsung kepada pembaca.

Sayangnya, buku ini hanya berisi 95 halaman. Setidaknya ada beberapa informasi yang tidak dibahas seperti piramida terbalik serta rubrik lain dalam hal pemberitaan. Setau saya ada beberapa, seperti straight news, artikel maupun essay. Maka, penambahan referensi lain selain buku ini saya kira menjadi hal yang wajib. Dan lagi, buku ini masih terkesan out of date. Pembahasan tentang infografis yang akhir-akhir ini disukai para pembaca tidak tersedia ditambah tidak adanya bahasan tentang portal berita daring. Pada bab 6 ada banyak halaman yang rusak seperti pengulangan halaman yang saya rasa tidak penting dan sangat-sangat menganggu.

Oiya, feature memang jadi tulisan yang sangat keren hingga hari ini bahkan diterapkan juga pada portal berita daring yang cukup populer di kalangan milenial seperti Tirto.id dalam rubrik mild report­-nya.

Pada akhirnya. Seperti layaknya kebanyakan buku. ‘Seandainya Saya Wartawan Tempo’ hanyalah sebatas muqadimah dalam topik pemberitaan. Yang primer justru terletak dalam rutinitas, iterasi serta pembaharuan dalam hal referensi ditambah implementasi menulis tiap harinya. Saya pikir, menulis artinya membaca dan membaca berarti pengimpelementasian. Jika ditanya buku ini cocok dibaca oleh siapa, maka, saya boleh mengatakan tidak hanya yang minat dalam hal jurnalis maupun berkutat dalam profesi ke-wartawanan namun juga yang gemar menulis secara luas dan komunal.

berbilang dari esa,
mengaji dari alif.

mengerjakan sesuatu dimulai
dari bagian awal. (Hlm. 91)

Malang,
13 Oktober 2018
Ibnu Dharma Nugraha

Tinggalkan Balasan