comment 0

Review Novel “O” – Eka Kurniawan

Novel “O” Eka Kurniawan-Sumber : Google.co.id

 

Impresi pertama novel ini agak sedikit membingungkan. Tidak ada sinopsis panjang. Judulnya sederhana. Tidak ada daftar isi. Tidak ada judul bab. Pun, tidak ada biografi dan rentetan penghargaan yang diberikan kepada penulis. Siapa pula itu Eka Kurniawan? Tidak dijelaskan. Pada bagian belakang buku hanya ada sebuah sinopsis sederhana “Tentang Seekor Monyet yang Ingin Menikah dengan Kaisar Dangdut”. Setidaknya pada bagian ini saya tahu novel “O” akan bercerita tentang seekor monyet. Ya, monyet.

Diceritakan, monyet betina bernama O yang ingin menjadi manusia sebab jatuh hati dan cinta pada seorang manusia bernama Entang Kosasih alias Kaisar Dangdut. O percaya bahwa Entang Kosasih adalah pacarnya saat tinggal di Rawa Kalong, sesama monyet yang telah berhasil menjadi manusia terlebih dulu mengikuti jejak Armo Gundul. Di Rawa Kalong tersebar isu bahwa seekor monyet dapat berubah menjadi manusia, asal mereka mengikuti jejak dan perilaku manusia seperti kisah Armo Gundul.

Entang Kosasih yang sedang berada di pohon menodongkan revolver kepada dua polisi baru di Rawa Kalong. Sobar dan Joni Simbolin. Pelor ketiga melesat, menembus dada kiri Joni Simbolin. Sobar, sahabatnya tidak terima. Pertarungan sengit antara Sobar dan Entang Kosasih (monyet) tidak dapat dipisahkan. Sobar menang, dan mayat Entang Kosasih hilang. O pada saat itu percaya bahwa Entang Kosasih telah berubah menjadi manusia.

Untuk mengikuti jejaknya menjadi manusia, O akhirnya bergabung dengan sirkus topeng monyet milik Betalumur. Seorang gelandangan yang suka mabuk dan tidur. Mengantarkan pula dengan tokoh lain seperti anjing, burung kakaktua, sepasang suami isti pemulung, waria, dan tokoh-tokoh lain yang tidak hanya menjadi cameo namun punya ceritanya sendiri-sendiri.

Dalam satu hal. Eka Kurniawan mengajak kita untuk seolah berbicara dengan hewan dan benda pinggiran yang terpinggirkan. Ada monyet, tikus, anjing pun dengan kaleng sarden pengamen. Kita seolah diajak untuk melihat potret satir dari realisme sosialis. Pun, didalamnya ada beberapa potret satir tentang manusia. Bahwa, dalam beberapa sisi ternyata hewan lebih manusia dibanding manusia itu sendiri.

Yang saya suka, cerita dalam novel ini ternyata tidak hanya bepusat pada O. Namun, setiap tokoh memiliki alur dan pengakhiran hikmah yang berbeda. Sobar misalnya, bercerita tentang kisah cinta yang palsu. Kirik, si anjing kecil berkisah tentang perbudakan dan kebebasan hidup. Burung kakaktua, berbicara tentang kebaikan yang diiterasikan. Pun dengan tokoh yang lain. Bahasa yang digunakan tidak terlalu puitis sehingga menyatu dengan keseharian kita. Maka jangan heran, beberapa kata kasar yang sering didengar akan banyak muncul di novel ini.

Yang unik dari novel ini adalah gaya penceritaan yang tidak linier, alurnya maju mundur dan melompat-lompat. Pada bab 1 akan membahas tentang monyet, pada bab 1 pula cerita akan berpindah kepada revolver dan dilanjutkan pada kisah polisi lalu revolver lagi. Gaya ini, mengajak kita untuk menerka dan mengkaitkan bingkai-bingkai cerita yang terpotong tadi ke dalam satu frame.

Menurut saya, novel ini cocok bagi mereka yang suka membaca novel dalam waktu yang lama dibarengi dengan kontemplasi pada setiap bagiannya. Jumlah halaman yang banyak, 470 halaman serta ukuran font yang tidak terlalu besar membuat novel ini nikmat untuk dilalui. Novel ini juga saya rekomendasikan untuk mereka yang butuh gaya penceritaan, kisah, alur serta penokohan yang anti mainstream serta ala kebarat-baratan.

Hidup ini tak lebih dari satu lingkaran. Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu dengan sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia ini berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O. (Hlm. 418)

Review Oleh : Ibnu Dharma Nugraha

Tinggalkan Balasan