comment 0

Review Buku Minimalisme, Seni untuk Menyederhanakan Hidup

Sumber gambar : google.co.id

Judul Buku       : Minimalisme, Seni untuk Menyederhanakan Hidup
Penulis             : DiPtra
Penerbit           : Trans Idea Publishing
Terbit               : Cetakan Pertama, 2018
Tebal               : 172 halaman
ISBN                : 978-602-0808-78-9
Harga               : Rp. 40.000

Life is really simple, but we insist on making it complicated.” -Confucius

Buku ini saya tau pertama kali melalui postingan ig @togamas_dieng (merupakan salah satu toko buku yang ada di Malang) dan langsung menarik perhatian saya karena judul juga covernya yang cukup lugas & simpel: sepasang sendal. Sendal bagi saya dapat juga merepresentatifkan suatu bentuk kesederhanaan, tidak mewah, tetapi tetap memiliki nilai fungsionalitas yang tinggi.

Seperti itulah DiPtra selaku penulis secara tidak langsung mengawali suatu gambaran gaya hidup yg sederhana atau disebut juga minimalis yakni kesadaran untuk  merasa cukup atas apa yang sudah dimiliki sembari fokus pada hal lain yang esensial (hlm 16). Minimalis merupakan antitesa dari gaya hidup konsumerisme.

Dalam pemaparan yang lebih komprehensif DiPtra membaginya dalam beberapa bab yaitu apa, kenapa, dimana, siapa, kapan dan bagaimana kehidupan  minimalis itu dapat diterapkan pada tiap sendi-sendi kehidupan.

Yang saya sukai dari buku ini karena pertama, ditulis berdasarkan pengalaman DiPtra ketika menekuni kehidupan minimalisnya selama tiga tahun sehingga seakan menyentuh dan nyata dengan kehidupan saya pribadi yang dalam beberapa kejadian DiPtra alami juga terjadi dalam kejadian saya.

Kedua, di beberapa bagian DiPtra juga menyelipkan kutipan-kutipan juga referensi dari berbagai sumber lintas masa, waktu maupun tempat seperti dari Imam Al-Ghazali, maupun Fumio Sasaki yang menulis buku Goodbye, Things: On Minimalist Living sehingga menguatkan persepsi akan kesederhanaan tadi.

Buku ini tidak terlalu tebal hanya 172 halaman tapi pembahasan yang ada cukup kompleks sehingga hal minor yang mungkin jadi kekurangannya adalah ukuran font yang tidak terlalu besar namun masih tetap bisa dibaca. Selain itu, masih ada beberapa kata yang mengalami kesalahan seperti ‘prestisus’ yang seharusnya ditulis ‘prestisius’. Ini hanya hal minor saja dan tidak merusak esensi dari buku ini.

Minimalisme dalam implementasinya ternyata jauh lebih luas lagi. Tidak hanya melulu soal kebendaan saja, namun masuk juga dalam lini produktivitas, digital, hunian, dll. Saya kagum bagaimana DiPtra bisa memadukan antara gaya hidup minimalisme dengan hal-hal tadi juga kagum bagaimana hal-hal tadi bisa menjadi salah satu cara untuk menghadirkan suatu kebahagiaan juga cara untuk membahagiakan.

Saya juga cukup tersentil pada subbab yang membahas tentang ‘paradigma baru terhadap buku’ (hlm 108), subbab ini memberikan perspektif beda mengenai kepemilikan buku yang berlebihan serta pengalaman dalam mereduksi kepemilikan buku tersebut. Mengingat ratusan buku yang DiPtra miliki hanya bertengger manis di sebuah rak yang terlupakan, tidak terbaca dan tidak diamalkan. Pada subbab ini benar-benar nyelekit.

Saya rasa, buku ini sangat layak dibaca oleh mereka yang sedang terkurung oleh pola hidup materialisme, banding-membandingkan maupun eksistensi visual yang sangat melekat. Good job DiPtra!!

Review by : Ibnu Dharma Nugraha

Tinggalkan Balasan