comment 0

Review Beli Buku di Mizanstore

Pertama, saya telah menguraikan bagaimana proses daftar hingga beli di Mizanstore. Caranya cukup mudah semudah tidak mengerjakan tugas kuliah. Kamu dapat melihat prosesnya di sini.

Nah. Setelah beli buku di sini. Impresi awal dan akhir saya cukup baik. Namun, memang ada beberapa kurang dibanding beli di martketplace yang ada.

Kelebihan Belanja di Mizanstore.com :

  1. User Experience dan User Interface pada website cukup responsif dan mudah untuk digunakan.
  2. Website cukup aktif dalam publikasi. Informasi bantuan seperti FAQ, cara belanja, kebijakan privasi di bottom website.
  3. Pembelian buku tidak harus mendaftar menjadi member website.
  4. Penerbit buku yang banyak. Tidak hanya dari Mizan.
  5. Buku yang ada cukup komplit. Bahkan beberapa buku yang sudah lawas masih tersedia
  6. Proses persiapan dan pengiriman buku yang relatif cepat. Sekitar 4 hari dari pembelian hingga buku sampai di tangan.
  7. Harga cukup bersaing. Diskon berkisar 15% hingga 81%.
  8. Pengemasan buku yang rapih. Ditutup plastik bening pada lapis pertama juga bubble cukup tebal di dalamnya. Selain buku yang aman dari benturan. Fungsi bubble juga bisa jadi mainan dikala bosan. Hmm

Kekurangan Belanja di Mizanstore.com :

  1. Proses pendaftaran yang cukup sulit jika menggunakan media sosial (Facebook). Saya mengalami kesulitan ketika memasukan regional. Terpaksa, email yang saya daftarkan.
  2. Kurir pengiriman hanya tersedia dua yaitu JNE dan TIKI.
  3. Pembayaran hanya tersedia dua opsi. Transfer via BRI atau Mandiri dan lewat Go-Pay. Opsi pembayaran lewat Alfamart dan Indomaret tidak tersedia.
  4. Proses tracking order yang cukup ribet. Memasukan invoice dan juga email. Serta, tracking order masih belum cukup lugas, hanya menginformasikan beberapa informasi. Terpaksa, untuk tahu lokasi buku berada saya mesti membuka websitenya JNE.
  5. Bagian buku yang saya beli sedikitnya kotor. Mungkin karena yang saya beli adalah buku lama kali ya.

Bagi saya. Ini hanya jadi salah satu medium. Pertanyaanya, apakah buku yang telah sampai di tangan akan dibaca, ditelaahi, diresapi maupun diimplementasikan setelahnya? Atau, hanya jadi pajangan sementara. Toh, buku hanya bentuk fisik saja, yang berharga justru terletak pada esensi makna tiap lembarnya. Bukankah begitu?

Malang,
13 Oktober 2018
Ibnu Dharma Nugraha

 

Tinggalkan Balasan