comment 0

Si Genius yang Berdiam Diri dan Petani-Petani yang Mati

Aku ingin menceritakan kisah yang sering dibicarakan orang di desa kami, yaitu tentang Si Genius yang berdiam diri. Kenapa ia dikatakan demikian? Sebab memang begitu, ia Si Genius adalah sarjana terkemuka  dari sebuah Universitas Negeri yang sangat mahsyur di negara kami. Tapi, tanpa sebab yang tidak diketahui oleh siapapun ia lebih memilih untuk berdiam diri.

Ceritanya sendiri sudah dari beberapa tahun yang lalu, semenjak ia lulus dari universitas itu. Si Genius datang ke desa kami, rumahnya berada dekat dengan pemukiman petani, dulu, ayahnya juga petani yang kaya. Awalnya, kami biasa saja. Seperti pemuda pada biasanya, Si Genius datang ke perkumpulan warga, mengikuti diskusi yang biasanya terjadi satu kali dalam dua minggu. Hingga momen itu pun terjadi.

Suatu hari saat diskusi terkait pertanian tengah berlangsung di balai desa, ia Si Genius datang.

“Aku punya ide agar desa kita lebih baik, tanpa pertanian,” begitu ia mengatakan dengan yakin dan lantang suaranya.

Di balai itu, kami para petani dengan pejabat desa menatapnya dengan terheran-heran juga marah. “Bagaimana?” Tanyaku, sepengetahuanku yang awam, pertanian sudah menjadi mata pencaharian utama kami untuk hidup dan makan, juga sudah menjadi warisan turun temurun dari generasi ke generasi.

“Ya, aku punya ide yang lebih baik, dibanding harus berkumuh susah dan tidak pasti hasil taninya dijual kemana.” Dengan tenang, ia kembali berkata, tanpa memperhatikan emosi warga yang sedang meluap-luap.

“Apa maksudmu!! Kami telah bertahan hidup bertahun-tahun dengan cara ini.” Ucap salah satu temanku, sambil berdiri dan menunjukan jari telunjuknya kepada Si Genius.

Wajah pongah Si Genius terlihat cukup jelas, seolah ia paham akan segala hal yang ada di desa kami, seolah ia paham akan nasib dan kehidupan kami.

“Aku punya rencana besar, kita jual lahan pertanian, untungnya bisa berkali-kali lipat dibanding yang kalian pernah bayangkan.”

Betapa marahnya kami mendengar perkataan itu muncul dari Si Genius. Pemuda yang baru singgah beberapa minggu dan mencetuskan ide gilanya kepada kami para petani dan pemuka desa. Semenjak kejadian itu, kami mulai tidak senang terhadapnya. Orang-orang mulai mencibirnya, dan para pemuka desa tidak acuh mendengar sarannya.

Dua bulan berikutnya, tanpa sebab yang jelas, air untuk sawah yang kami punya, yang biasanya mengalir riuh tanpa jeda suka tersendat-sendat dan kadangkala berhenti. Kami, para petani berkumpul untuk menyelesaikan permasalahan ini. Usul demi usul keluar, beberapa petani mencoba menjelajah aliran air irigasi hingga sampai ke sumber mata airnya: masih ada.

“Aku heran,” kata salah satu petani yang juga temanku. “Dari dulu kita tidak memiliki masalah yang seperti ini. Dulu air lancar-lancar saja, sawah dapat tergenang meskipun bukan musim penghujan. Sekarang ini, malah sulit untuk mendapatkan air.”

“Jangankan kamu, aku juga bingung dan heran,” petani yang lain seolah menyetujui.

Hari itu kami semua kebingungan, serta kemudian kembali ke rumah masing-masing.

Esoknya, dilanda oleh rasa penasaran, aku seorang diri kembali menyusuri kembali aliran irigasi yang menjadi sumber mata air lahan pertanian kami. Menyusuri tiap saluran demi saluran: teliti, hingga langit mulai menampakan jingganya dan suara serangga mulai menyeruak. Di akhir waktu pasrahku, di tengah aliran irigasi ketika aku ingin pulang. Kutemukan hal yang ganjil, aliran itu tidak mengarah ke lahan kami. Setelah lebih aku teliti, aliran menuju ke timur. Ke tempat perusahaan semen yang baru saja berdiri lima bulan lalu.

Malam sudah tiba. Bintang mulai bertaburan. Adzan isya sudah berkumandang. Di dalam kegelisahan yang aku rasakan, aku berlari dengan sekonyong-konyong ke tiap rumah warga yang juga petani dan mengajaknya ke balai desa. Aku bilang penting. Dan aku ceritakan kejadian yang baru aku alami.

“Apa!! Berani-beraninya air kita diambil, dan digunakan untuk semen-semen itu!!” Ucap seorang petani di tengah panas hati kami memikirkan.

“Ini ngga bisa dibiarin, besok kita harus ke perusahaan semen itu dan menuntut segala hal, jika perlu, kita bawa ini ke ranah hukum.” Tambah petani tadi.

Segera, setelah kami berdiskusi panjang betul dengan atensi emosi yang meluap-luap, kami segera pulang kembali ke rumah masing-masing. Batinku masih kesal. Juga hati warga yang lain.

Di hari berikutnya, kami datang, menuntut yang kami bisa tuntut. Namun nihil, perusahaan itu sudah memiliki hukum yang jelas termasuk dengan aliran air yang semula kami gunakan untuk irigasi. Kami pulang dengan iba dan sungkawa, air irigasi kami telah mati, dimatikan oleh orang hidup yang hatinya mati.

Berbulan-bulan kemudian, demo demi demo kami lancarkan. Dari awal di desa, hingga kabupaten, hingga kota, bahkan negara. Namun, seperti yang kami duga, di negara kami. Keadilan bukanlah suatu yang murah harganya, ia tidak bisa dibayar oleh keringat, oleh rasa susah, bahkan oleh rasa adil itu sendiri. Keadilan di negeri kami sangat mahal bagi kami, tapi murah bagi mereka, yang memilik banyak lembaran-lembaran wajah pahlawan berwarna merah di bank mereka. Membayangkannya saja aku tak sanggup.

Pada epilog kesusahan dan ketidakmungkinan kami. Aku dan petani yang lain mengikuti saran Si Genius untuk menjual lahan pertanian kami. Pada mulanya bagus, kami bisa menghidupi keluarga dengan secukupnya, anak-anak bisa kami sekolahkan hingga SMA tanpa takut tidak bisa sekolah karena gagal panen. Semenjak itu juga, lahan sawah yang kami jual mulai berubah menjadi lahan beton, aliran irigasi menjadi aliran limbah perusahaan semen.

Harga padi menginjak umur tiga tahun setelah sawah kami jual, makin naik. Warga makin kesulitan dan semenjak itu Si Genius menjadi pendiam dan mendiamkan dirinya, tidak pernah lagi mengikuti diskusi yang sering kami lakukan dua minggu sekali. Yang kami lihat, Si Genius sering pergi ke luar kota. Memasarkan produk semen dari perusahaan semen di desa kami.

Para sahabatku, demikianlah kisah Si Genius yang Berdiam Diri, dan demikianlah cerita ini dan kami para petani mulai berakhir.

 

Malang,
19 Desember 2018
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Jon Jon dan Jun Jun

Jon Jon resah. Internet hari itu sedang putus. Pasrah. Jon Jon membuka laptopnya, menyalakan ulang, lalu menyambungkan kembali pada wifi yang biasanya dilakukan. Tetap putus. Makin pasrah.

Jon Jon bersandar kembali ke bangkunya. Bingung dipikirnya. Internet tidak kunjung tersambung. Ia bingung tetap pasrah. Sesekali Jon Jon menyebut nama hewan haram jadah. Sesekali juga memukul ke kirinya, sebuah tembok putih yang cukup keras. Hewan haram jadah kembali disebutnya, kali ini bukan karena internet yang tidak kunjung tersambung.

Namun, karena tangan kanannya berdarah, pelipis jari tengah terkelupas dengan lebam biru yang cukup terang setelah menabrakan ke dinding putih tadi. Nyeri sedikit, tapi pikir Jon Jon lebih nyeri tidak ada internet.

Jon Jon lalu bergumam di otaknya. Jika internet tidak ada, apa yang bisa dilakunnya. Jon Jon pikir, tidak ada. Lalu, tetiba Jon Jon teringat. Ia punya website pribadi yang sudah usang dengan pengunjung yang rata di angka puluhan. Jon Jon terpikir di otaknya untuk membuat postingan baru . Lalu, ia mengurungkan niatnya. Buat apa? Jon Jon kembali berpikir. Toh, tetap usang dan pengunjungnya tidak akan sampai ke angka ratusan atau ribuan atau jutaan seperti penulis lainnya. Jon Jon mengurungkan niatnya.

Diam tidak biasa di bangku yang di duduki Jon Jon. Cukup lama. Jon Jon bangkit dari bangkunya, berpindah ke tempat tidur yang tepat berada di kanannya. Merebahkan badannya, menarik selimutnya, memeluk gulingnya, menutup matanya. Jon Jon terlelap dalam tidurnya.

Hujan rintik di luar kamarnya. Buat Jon Jon itu baik, sebab tidurnya dapat lebih baik juga.

Di samping kamarnya. Teman Jon Jon yaitu Jun Jun sedang membaca. Sesekali menulis dengan versi yang berbeda dari bacaan yang dibacanya. Satu paragraf hingga jadi belasan singkat. Sebuah cerpen Jun Jun berjudul Jon jon. Ceritanya, Jon Jon resah juga pasrah. Sebab, internetnya tidak tersambung-sambung juga.

Hujan juga rintik di luar kamarnya. Buat Jun Jun itu baik, sebab tulisannya dapat lebih baik juga.

 

Malang,
14/12/2018
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

sumber : dinahanan.wordpress.com

Dilanda oleh rasa penasaran. Ajo Kawir mengikuti ajakan temannya Si Tokek untuk melihat (lebih tepatnya mengintip) rumah Rona Merah. Wanita sinting yang suka mengamuk dan ditinggal mati suaminya. Rumah ini berada satu desa, namun cukup jauh dengan daerah pemukiman.

Melalui lubang kusen jendela dapur yang telah dibuat Si Tokek sebelumnya, Ajo Kawir mencoba melihat ke dalam rumah Rona Merah. Tampak hanya ada kursi, pakaian, meja terbalik dan beberapa sampah yang tidak juga dibereskan. Sementara itu, hujan rintik di luar. Udara menjadi dingin. Ajo Kawir dan Si Tokek makin merapat ke dinding rumah. Menghindari cipratan gerimis yang tak kunjung reda sembari tetap mengintip dan makin penasaran.

Tidak berapa lama, dua polisi datang. Pikir aneh batin Ajo Kawir. Sebab, tidak banyak orang yang sering berkunjung ke rumah Rona Merah. Sekalipun ada, itu adalah Wa Sami. Ibu Si Tokek untuk memberikan beras di depan pintu. Pikir aneh semakin besar ketika dua polisi yang dilihat memiliki kunci untuk masuk ke dalam rumah Rona Merah.

Berawal dari malam mencekam itu, sesuatu yang luar biasa terjadi pada Ajo Kawir. Sesuatu besar yang merubah si kecil dan masa depan serta filosofi hidup Ajo Kawir. Menjadikan Ajo Kawir lelaki paling sial se-dunia juga bijak setelahnya.

Melalui dialog penyakit Ajo Kawir. Eka mencoba (saya pikir sih) meng-alegoriskan insiden itu pada kehidupan nan damai, tenang tanpa pertikaian. Novel ini juga secara tersirat dan vulgar memperjelas celah-celah persahabatan, kondisi zaman, dan kebrutalan pada masanya. Gaya bahasa yang tidak pandang bulu ‘kasar’ maupun ‘halus’ sesuai pada stratifikasi sosialnya masing-masing adalah unik, sayangnya, tidak semua umur bisa baca novel ini (21+).

Lalu, interpretasi akan novel ini sangat beragam. Beberapa orang meng-internalkan konsep maskulinitas dan patriarki kaum pria pada novel ini. Beberapa kritik pada karya Eka (sebelumnya Cantik itu Luka) kerap muncul. Tidak semua orang cocok dengan novel ini.

“Dan jika kita tahu ada cara untuk membuatnya adil, kita layak untuk membuatnya jadi adil.” (Hlm 48)