comments 2

Orang-Orang Baik

Kamis, dua pekan yang lalu saya ikut kegiatan bernama Forum Indonesia Muda 20 wilayah 4 (Jawa Timur, Bali, NTT). Untuk bisa ngikutin kegiatan ini emang mesti ngelaluin beberapa tahapan yang cukup ribet dan belibet: isi berkas online, melakukan project social, sampai tahap interview yang groginya bukan main. Forum Indonesia Muda atau FIM ini sendiri merupakan sebuah forum independen yang beranggotakan pemuda dan mahasiswa dari berbagai aktivitas, universitas maupun lembaga kepemudaan, dari seluruh Indonesia; dengan cita-cita bersama membangun bangsa dengan semangat kontribusi bersama. Forum ini dibuat sebagai sarana peningkatan kompetensi pemuda dan mahasiswa dalam rangka menyiapkan pemimpin masa depan dan wadah silaturahmi untuk membangun kontribusi bersama. Cielah, hasil copy paste dari websitenya.

Kegiatan FIM ini berlangsung kurang lebih 4 hari dari Kamis sampai Minggu yang didalamnya dipertemukan dengan peserta lain dengan cakupan wilayah 4 tadi. Secara umum, kegiatan ini seperti kegiatan pelatihan kepemimpinan pada biasanya: ada keynote speakernya, ada sesi tanya jawabnya, ada yang dijodohin-jodohin, ada yang jomblo nelangsa, ada yang diem-diem suka. Ya kurang lebih gitu-gitulah. Tapi, di luar kegiatannya yang umum, terselip juga hal-hal yang plot twist macam baca novelnya Andrea Hirata berjudul Ayah atau nonton film Fight Club karya sutradara David Fincher. Di beberapa titik dan bagian saya sampai terkagum-kagum. Panitianya solid membaur dan melebur. Di beberapa titik ini pula mata saya silau tidak bisa menangkap realita, mulut jadi komat-kamit, pipi berdecik, hidung mancung, telinga tertawa.

Satu sesi yang cukup seru adalah pada sesi fasil semacam dibentuk sebuah kelompok beranggotakan 10-12 orang. Di sini peserta yang ‘masih’ belum berani mengungkapkan pendapatnya di depan umum dituntut untuk berani: mengungkapkan ide, unique value pribadinya, hingga aib-aib yang eksentrik. Saya pun banyak dapat insight dari sesi yang satu ini, kalo bukan tentang perjuangan berarti tentang mimpi. Kalo bukan tentang mimpi, berarti tentang lingkungan baik bersama dengan orang-orang yang baik. Kalo bukan itu juga, mungkin saja hulu perjodohan dimulai dari sini. Hmm, jomblo nelangsa memang.

Di hari akhir kegiatan. Sesi fasil melakukan simbolik perpisahan macam melepas kepergian para tentara tangguh nan berani menuju medan tempurnya. Selain itu juga, masing-masing peserta mengutarakan pendapat tentang insight yang didapatkan selama 4 hari ke belakang. Karena kebetulan saya ada posisi akhir, hal yang bisa saya lakukan hanya nyimpulin insight dari peserta yang lain. Ini catatan kecil yang saya tulis :

  1. Menghargai dan menikmati sebuah proses.
  2. Rasa syukur dan menghargai sesama tanpa kasta.
  3. Pentingnya memahami satu sama lain.
  4. Anak muda harus mengalami School of Suffering.
  5. Kesabaran adalah pangkal dari kebaikan.
  6. Selalu ada alasan dibalik sebuah perjuangan.
  7. Sakit memang hadir, namun beriringan juga dengan proses pendewasaan yang menumbuh.
  8. Just Do It, selagi itu kebaikan. Lakukan!
  9. Kolaborasi dan elaborasi adalah segala-galanya.
  10. Transformasi diri menuju kebaikan.

Selain sesi fasil, hal lain yang jadi nilai lebih ketika gabung FIM adalah bisa bertemu sama orang-orang baik. Saya bertemu sama seorang dokter yang kemudian mengabdi di tanah NTB, saya juga bertemu dengan orang-orang yang sudah larut dalam hal-hal berbau sosial. Momen lain yang saya suka adalah tentang pembicaraan dalam konteks manfaat dan bermanfaat. Ntah, 1 kata itu selalu mengaung dalam beberapa kegiatan.

Dipertemukan dengan orang-orang yang senantiasa berusaha berbuat baik adalah suatu hal harus disyukuri. Saya pikir, selagi nyawa masih digenggaman upayakan lah untuk terus bertemu dan bersua dengan ‘orang’ yang orientasi hidupnya adalah ‘orang lain’. Orang-orang yang tajam pikiran dalam mengentaskan suatu problematika: besar maupun kecil. Tangannya gatal ingin selalu turun dan tergabung. Suaranya lantang berseru sorakan kepedulian. Senyumnya simpul menyapa dan bicara. Langkahnya tanggap untuk bergerak. Dan terakhir, mereka-merekalah orang yang sudah selesai dengan urusannya sendiri lalu memikirkan bagaimana nasib orang lain. Bagi saya, Orang-orang baik adalah motivasi untuk baik. Maka ikatlah dengan ukhuwah dan dekaplah dengan ramah.

Malang,
07/08/2018
Ibnu Dharma Nugraha

2 Comments

Tinggalkan Balasan