comment 0

Kalimati ke Mahameru

Kali pertama dan terakhir saya mendaki gunung adalah dua tahun lalu, tahun 2016. Gunung Semeru: gunung tertinggi di pulau jawa. Sayangnya, momennya terlewat begitu saja: kurang didokumentasikan, tidak banyak foto yang saya ambil dan kalopun ada emang tidak niat. Maklum, makin tua makin kurang eksis di dunia perfotoan.

Perjalanan yang sangat berkesan justru ketika melelahkan: saat menaiki puncak Mahameru. Saya dan teman-teman yang lain sebelumnya melakukan istirahat di Kalimati hingga pukul 12 malam. Hingga kemudian melakukan perjalanan sampai pukul 6 pagi. Benar, perjalanan dari Kalimati menuju puncak Mahameru memakan waktu 6 jam. Waktu yang sangat lama, pikir kami.

Jalannya cukup curam, berpasir dan juga gelap. Tidak terlalu jelas kiri dan kanan, hipotesa saya pada saat itu adalah jurang yang mengharuskan kami untuk berhati-hati. Sebab, memang gelap sekali, cahaya yang kami dapat hanya dari bulan dan juga headlamp yang nempel di kepala masing-masing. Mengerikan.

Saya dapat dikategorikan sebagai peserta yang paling menyusahkan sebab berjalan dengan merayap macam kelabang di kamar mandi. Membuat beberapa pasir terhempas oleh kaki ke peserta lain yang ada di belakang. Menggerutu si peserta lain tapi tak acuh bagi saya karena takut jika tidak dapat menjaga keseimbangan dan jatuh ke samping atau ke bawah. Kesar, pikir mereka.

Waktu istirahat bisa dibilang banyak tapi singkat. 10 meter ke atas sama saja dengan istirahat 10 menitan. Dan kesulitannya adalah dalam mencari tempat istirahat karena harus waspada jika batu yang dipijak. Katanya, ada beberapa kejadian batuan besar jatuh dari ke puncak ke bawah, kena beberapa orang pendaki yang akhirnya meninggal.

Dan sampai jam 6, sudah di puncak. Sunrise terbit di timur, indah. Namun bagi saya, keindahannya tidak sebanding dengan keindahan perjalan liku 6 jam yang lalu. Obrolan seru, penuh gerutu, dan proses sabar dalam perjalanan untuk satu tujuan yaitu puncak. Menikmati proses saya pikir lebih baik.

Carl Rogers, seorang psikolog di Amerika Serikat pernah bilang bahwa “Kehidupan yang baik adalah sebuah proses, bukan suatu keadaan yang ada dengan sendirinya. Kehidupan itu sendiri adalah arah, bukan tujuan”.

Malang,
13 November 2018
Ibnu Dharma Nugraha

 

 

Tinggalkan Balasan