comment 0

Jon Jon dan Jun Jun

Jon Jon resah. Internet hari itu sedang putus. Pasrah. Jon Jon membuka laptopnya, menyalakan ulang, lalu menyambungkan kembali pada wifi yang biasanya dilakukan. Tetap putus. Makin pasrah.

Jon Jon bersandar kembali ke bangkunya. Bingung dipikirnya. Internet tidak kunjung tersambung. Ia bingung tetap pasrah. Sesekali Jon Jon menyebut nama hewan haram jadah. Sesekali juga memukul ke kirinya, sebuah tembok putih yang cukup keras. Hewan haram jadah kembali disebutnya, kali ini bukan karena internet yang tidak kunjung tersambung.

Namun, karena tangan kanannya berdarah, pelipis jari tengah terkelupas dengan lebam biru yang cukup terang setelah menabrakan ke dinding putih tadi. Nyeri sedikit, tapi pikir Jon Jon lebih nyeri tidak ada internet.

Jon Jon lalu bergumam di otaknya. Jika internet tidak ada, apa yang bisa dilakunnya. Jon Jon pikir, tidak ada. Lalu, tetiba Jon Jon teringat. Ia punya website pribadi yang sudah usang dengan pengunjung yang rata di angka puluhan. Jon Jon terpikir di otaknya untuk membuat postingan baru . Lalu, ia mengurungkan niatnya. Buat apa? Jon Jon kembali berpikir. Toh, tetap usang dan pengunjungnya tidak akan sampai ke angka ratusan atau ribuan atau jutaan seperti penulis lainnya. Jon Jon mengurungkan niatnya.

Diam tidak biasa di bangku yang di duduki Jon Jon. Cukup lama. Jon Jon bangkit dari bangkunya, berpindah ke tempat tidur yang tepat berada di kanannya. Merebahkan badannya, menarik selimutnya, memeluk gulingnya, menutup matanya. Jon Jon terlelap dalam tidurnya.

Hujan rintik di luar kamarnya. Buat Jon Jon itu baik, sebab tidurnya dapat lebih baik juga.

Di samping kamarnya. Teman Jon Jon yaitu Jun Jun sedang membaca. Sesekali menulis dengan versi yang berbeda dari bacaan yang dibacanya. Satu paragraf hingga jadi belasan singkat. Sebuah cerpen Jun Jun berjudul Jon jon. Ceritanya, Jon Jon resah juga pasrah. Sebab, internetnya tidak tersambung-sambung juga.

Hujan juga rintik di luar kamarnya. Buat Jun Jun itu baik, sebab tulisannya dapat lebih baik juga.

 

Malang,
14/12/2018
Ibnu Dharma Nugraha

Tinggalkan Balasan