All posts filed under “REVIEW

comment 0

Pribadi-Pribadi yang Menginspirasi by Dahlan Iskan

Sejak Dahlan Iskan tidak menulis lagi di Jawa Pos, banyak para pembacanya yang kangen dengan tulisan beliau. Joko Intarto, salah satu wartawan di Jawa Pos dulu, ketika Dahlan Iskan masih memimpin Jawa Pos menawarkan diri untuk membantu mempublikasikan tulisan Dahlan Iskan melalui internet yang kita kenal sekarang dengan Disway.id singkatan dari Dahlan Iskan’s Way. Topiknya beragam-ragam, mulai dari perjalanan ke luar negeri, pribadi yang menginspirasi, hingga politik dalam dan luar negeri.

Buku ini merupakan antalogi kisah pribadi-pribadi yang menginspirasi yang Dahlan Iskan temui di perjalanan hidupnya. Ada puluhan kisah yang dipilih untuk buku ini seperti Pondok Pesantren Pertama di Amerika atau Cerita Ricky Elson, di pelosok Tasikmalaya. Disana ia buat pesantren teknologi. Di Ciheras yang diberi judul Pendongeng Michio Kaku dari Ciheras yang jadi favorit cerita di buku ini. Versi saya. Selain cerita lain tentang Pengusaha Tempe di Jepang.

Barangkali, perlu penyesuaian dalam membaca buku ini karena tulisannya agak beda dari biasanya. Kalimatnya pendek-pendek. Tiga kata, dua kata bahkan satu kata. Tanpa koma. Kebanyakan titik. Tapi bisa diterima, hingga buku ini terbit sudah ada 5 juta pembaca di Disway.id. Website resmi beliau. Abah Dahlan Iskan.

Sekalipun tidak beli buku ini, tulisan Abah Dahlan Iskan masih bisa dinikmati kok di website resminya. Disway.id. Selamat membaca.

“Kini Ricky mengasuh dua jenis makhluk hidup: manusia dan binatang. Ricky menggunakan binatang sebagai contoh. Sesederhana apa pun binatang itu seperti manusia: bisa berpikir. Yang binatang tidak bisa adalah: membuat perencanaan.” (Hlm 75)

Malang,
21 Maret 2019
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Originals by Adam Grant

Di tahun 2008, empat orang mahasiswa siap mendisrupsi bisnis kacamata Luxoticca yang mengendalikan 80% pangsa kacamata pada masanya. Datanglah mereka kepada Adam Grant untuk memintanya menjadi investor. Adam Grant menolak menanamkan modal karena Ia pikir para pendirinya tidak mencerminkan model pilihan pengusaha sukses, seperti tidak berani mengambil risiko menanggalkan pekerjaannya, dan lain-lain.

Di tahun 2015 menjadi titik balik Grant, ketika Fast Company merilis daftar perusahaan paling inovatif di dunia dan perusahaan kacamata yang Ia tolak ternyata bertengger pada posisi pertama. Tiga pemenang sebelumnya adalah raksasa kreatif seperti Google, Nike, dan Apple. Warby Parker, itulah nama perusahaanya.

Para psikolog menurut Grant menemukan bahwa ada dua jalan menuju keberhasilan: konformitas dan orisinalitas. Konformitas artinya mengikuti orang kebanyakan dengan menjaga status quo. Sedangkan orisinalitas adalah memilih jalur yang jarang dilalui, memperjuangkan nilai yang berbeda, tetapi akhirnya membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

Ada lima hal yang ditawarkan Grant agar menjadi pribadi yang orisinil. Pertama, selalu pertanyakan status quo, jika ada yang salah pada status quo empat cara yang bisa dilakukan adalah dengan bersuara, bertahan, mengabaikan atau keluar. Orang orisil cenderung untuk memilih bersuara, sebelum akhirnya keluar apabila suaranya tidak didengar. Kedua, melipatkan jumlah ide, seperti Mozart yang menghasilkan 600 komposisi sebelum meninggal, kuantitas menghasilkan kualitas. Ketiga, mitigasi risiko, ketika Pierre Omidyar membangun Ebay Ia tetap bekerja menjadi programer selama 9 bulan berikutnya, atau Bill Gates yang menjual program piranti lunak di tingkat dua dan menunggu setahun penuh sebelum berhenti kuliah. Keempat, perbanyak pengalaman yang berbeda, seperti para pemenang Hadiah Nobel yang mengembangkan kegiatan kreatif seperti bermain musik. Kelima, menunda secara strategis.

Membaca buku ini seperti membaca buku psikologi berbasis riset dengan contoh-contoh konkrit sebelumnya. Buku ini juga pernah mendapatkan The #1 New York Times Best Seller.

Kekurangannya, menurut saya, terlalu bertele-tele sebelum masuk ke-intinya. Dengan tebal sebanyak 348 lembar, buku ini akan cukup lama untuk ditamatkan. Sejauh ini, buku ini saya rekomendasikan bagi yang senang dengan buku bisnis ataupun psikologi manusia. Selamat membaca.

Malang,
11 Maret 2019
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

sumber : dinahanan.wordpress.com

Dilanda oleh rasa penasaran. Ajo Kawir mengikuti ajakan temannya Si Tokek untuk melihat (lebih tepatnya mengintip) rumah Rona Merah. Wanita sinting yang suka mengamuk dan ditinggal mati suaminya. Rumah ini berada satu desa, namun cukup jauh dengan daerah pemukiman.

Melalui lubang kusen jendela dapur yang telah dibuat Si Tokek sebelumnya, Ajo Kawir mencoba melihat ke dalam rumah Rona Merah. Tampak hanya ada kursi, pakaian, meja terbalik dan beberapa sampah yang tidak juga dibereskan. Sementara itu, hujan rintik di luar. Udara menjadi dingin. Ajo Kawir dan Si Tokek makin merapat ke dinding rumah. Menghindari cipratan gerimis yang tak kunjung reda sembari tetap mengintip dan makin penasaran.

Tidak berapa lama, dua polisi datang. Pikir aneh batin Ajo Kawir. Sebab, tidak banyak orang yang sering berkunjung ke rumah Rona Merah. Sekalipun ada, itu adalah Wa Sami. Ibu Si Tokek untuk memberikan beras di depan pintu. Pikir aneh semakin besar ketika dua polisi yang dilihat memiliki kunci untuk masuk ke dalam rumah Rona Merah.

Berawal dari malam mencekam itu, sesuatu yang luar biasa terjadi pada Ajo Kawir. Sesuatu besar yang merubah si kecil dan masa depan serta filosofi hidup Ajo Kawir. Menjadikan Ajo Kawir lelaki paling sial se-dunia juga bijak setelahnya.

Melalui dialog penyakit Ajo Kawir. Eka mencoba (saya pikir sih) meng-alegoriskan insiden itu pada kehidupan nan damai, tenang tanpa pertikaian. Novel ini juga secara tersirat dan vulgar memperjelas celah-celah persahabatan, kondisi zaman, dan kebrutalan pada masanya. Gaya bahasa yang tidak pandang bulu ‘kasar’ maupun ‘halus’ sesuai pada stratifikasi sosialnya masing-masing adalah unik, sayangnya, tidak semua umur bisa baca novel ini (21+).

Lalu, interpretasi akan novel ini sangat beragam. Beberapa orang meng-internalkan konsep maskulinitas dan patriarki kaum pria pada novel ini. Beberapa kritik pada karya Eka (sebelumnya Cantik itu Luka) kerap muncul. Tidak semua orang cocok dengan novel ini.

“Dan jika kita tahu ada cara untuk membuatnya adil, kita layak untuk membuatnya jadi adil.” (Hlm 48)