All posts filed under “INSPIRASI

comment 0

Pemimpin Itu?

Indonesia sebentar lagi akan memasuki babak baru dalam hal kepemimpinan. Bak roda yang berputar, eskalasi pemerintahan akan berpindah dan dipindah tangankan ke era berikutnya. Bisa jadi ‘baru’ yang bisa jadi lebih baik atau lebih buruk. Bisa pula dipegang kembali oleh para ‘incumbent’ yang lagi-lagi, bisa jadi buruk atau juga sebaliknya. Riuh pendukung yang congkak akan persepsinya mulai dapat dilihat di berbagai ranah-ranah maya, beberapa meng-agung-agungkan pemimpin yang dipilihnya dan tidak sedikit yang merusak citra lawannya dengan info-info yang sangat teri. Selagi lawan melakukan kesalahan itulah isu yang digodok juga dibuzzer. Bahkan jika itu bukan kesalahan tetap aja dibuzzer, misal: ‘pake’ stuntman pas atraksi motor. Eleuh-eleuh.

Terlepas dari riuh, ricuh, amburadul, dan ‘kelakar’nya dunia maya Indonesia hari ini. Saya rasa setiap pemimpin memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Ini mutlak. Yang mendasar justru jika pemimpin setelahnya tidak melakukan perbaikan dari kepemimpinan sebelumnya. Ini masalah.

Kemarin, dalam agenda pelatihan FIM, saya dan teman-teman membuat sebuah evaluasi sederhana terkait dengan good dan bad nya pemimpin tiap era: Soekarno hingga Jokowi. Berbagai evaluasi subjektif kami berikan sepaham apa yang kami lihat dan juga rasa. Kesimpulannya satu: setiap pemimpin memiliki superiotas dan buruk yang berbeda. Dimulai dari era Soekarno yang minim akan kaderisasi namun unggul dalam gaya kepemimpinannya: orasi narasinya begitu molek nan rancak hingga dikenang beberapa puluh tahun setelahnya: “berikan aku 10 pemuda, maka akan aku guncang dunia”. Sampai era ke-tujuh dikepemimpinan Jokowi yang kaya akan kontroversi namun punya visi nawacita yang antik.

Berikut hasil diskusi good dan bad kepemimpinan tiap era yang saya rangkum dalam beberapa poin yang singkat dan padat. Semoga mudah untuk dipahami.

The Leader Must (Pemimpin itu Harus) : 

1. Berpihak kepada pendidikan, kesehatan, pertanian
2. Mempunyai stabilitas politik
3. Transparan
4. Sistem pelayanan terbuka
5. Taat kepada hukum
6. Inovatif
7. Narator dan negosiator ulung
8. Idealis
9. Kutu buku

 The Leader Must Not (Pemimpin itu Jangan) : 

1. Mencampurkan adukan organisasi dengan kehidupan pribadi
2. Gagal merencanakan
3. Gagal melindungi watak organisasinya
4. Diktator
5. KKN
6. Punya komunikasi yang kaku
7. Egois
8. Melupakan kaderisasi

Menjadi pemimpin memang bukan sebuah perkara yang mudah. Berbagai perspektif kadangkali memilah sisi yang berbeda dari personal terhadap persona pemimpinnya. Namun, dari hal yang divergen justru bisa menjadi bahan refresif setelahnya: meningkatkan superioritas dan minimalkan buruk yang telah terjadi pada era kepemimpinan yang lampau. Bagi saya, fundamentalnya sebuah kemimpinan adalah pemimpin itu sendiri. Pemimpin harus punya ikhtiar kuat belajar dari masa lalu serta restorasi-restorasi setelahnya. Udah siap jadi pemimpin? ……. Untuk si dia. Oke, saya jomblo.

“Pemimpin harus bisa menempatkan diri di depan untuk memberikan teladan, di tengah untuk memberikan semangat, dan di belakang untuk memberikan dorongan.” -Ki Hajar Dewantara

Malang,
26/08/2018
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Mas Jay (Andreas Senjaya) yang Anjay

Tiga hari lalu, alhamdulillah saya diberikan kesempatan sama Allah SWT untuk ketemu salah satu sosok yang sangat menginspirasi. Saya dibuatnya terpegun hingga tertegun. Membuktikan pula bahwa paribahasa “bertemu dengan satu orang bijak, lebih baik dibanding membaca 1000 buku” (dari buku yang pernah saya baca tapi lupa judulnya) adalah benar, walaupun buku yang saya baca belum nyampe 1000 tapi insightnya bukan main. Ialah mas Andreas Senjaya, seorang Founder sekaligus CEO dari iGrow. Beliau sedang ada di Malang dalam kegiatan penghargaan Gen T 2018.

Ngobrol-ngobrol kemarin berlangsung dari jam 19.00-21.00 WIB di salah satu café di Malang bareng anak-anak FIM 20 Malang. Impresi pertama pas Mas Jay (panggilan akrab Andreas Senjaya) datang ini luar biasa, yang jadi luar biasa justru karena beliau tampil sederhana : bersetel jaket hoodie hitam dan sepatu kets juga rautan senyum simpulnya yang sering merekah di beberapa waktu. Saya bertanya dalam hati, “serius ini CEO?”.

Selama 2 jam diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul sana sini, Mas Jay ngejawab beberapa pertanyaan dari anak-anak FIM 20 Malang. Tentang habbit, start-up, kepribadian, visi hidup, personal branding, dan lain-lain. Jawaban yang diucapkan itu langsung masuk ke telencephalon otak untuk berfikir. Yang menjadi intrinsik dan melekat justru karena jawaban tersebut sangat subjektif, Mas Jay mengkaitkannya pada pengalaman pribadi beliau ditambah diksi anti “menggurui” yang malah jadi “refleksi”. Artikulasinya padu, diksinya berima, dan isinya bermakna. Luar biasa!! dua tanda seru. Saya yakin proses beliau untuk bisa seperti sekarang bukanlah suatu yang didapatkan dengan cara yang mudah. Ibarat teori gunung es dengan visualisasi puncak nan elok rupawan. Namun, dalam proses kesana (baca: puncak) mesti ada liku dan pilu yang meramu.

Di awal, Mas Jay menjelaskan tentang “gimana public speaking biar lancar” dikaitkanlah pada pengalaman beliau zaman mahasiswa, katanya beliau pernah orasi dalam ajang pemilihan wakil ketua BEM kala itu. Softskill beliau dalam public speaking diasah melalui organisasi dan lomba-lomba yang pernah beliau ikuti.

Lanjut, pembasahan lain adalah seputar entrepreneur atau dalam hal ini dunia start-up yang beliau sedang jalani. Mas Jay bilang bahwa mencari CO-Founder dalam merintis sebuah start-up adalah hal yang penting dan agak-agak susah buat dilakuin, CO-Founder adalah orang yang rela berjuang, bersusah payah, dan optimis terhadap visi yang dibawa dari nol. Untuk menemukannya, Mas Jay sendiri lebih menyarankan mencari orang sesuai dengan culture yang perusahaan nantinya. Tentunya orang ini sudah kita kenal sebelumnya baik tentang karakter ataupun kelebihannya alias bisa melengkapi antara satu sama lain. Beliau menambahkan, bahwa untuk mencari seorang CO-Founder ini tidak melulu dari suatu hal yang langsung besar, kadang adalah akumulasi hal kecil (grass road) yang tumbuh bareng-bareng contohnya Steve Jobs dan Steve Wozniak yang pada awalnya jualan motherboard untuk PC.

Lebih lanjut, Mas Jay mengutarakan tentang mitigasi risiko (risk juction) yang merupakan tindakan untuk meminimalkan potensi dampak bencana yang ada. Melihat banyaknya interpretasi sukses yang bias dikalangan milenial saat ini. Seorang Bill Gates yang sukses padahal Drop Out langsung diinterpretasikan bahwa untuk sukses mesti D.O, padahal Bill Gates sendiri sudah ada risk juctionnya kala itu. Ia mau D.O ketika Microsoft sudah dapat dana investasinya yang banyaknya bukan main. Atau, seorang Nadiem Makarim yang membuat sistem Go-Jek yang runtut, business model yang cemerlang : akhirnya valuasi Go-Jek bisa triliunan yang menjadikannya start-up unicorn. Beberapa orang langsung berlomba membuat yang serupa dengan keminiman pengalaman, padahal Nadiem sendiri sebelumnya membangun Go-Jek udah kerja dulu di Lazada : mempelajari sistemnya, dan mendapatkan link dengan skala internasional yang menjadi unfair undvantage sendiri bagi Go-Jek.

Mas Jay juga mengutarakan bahwa untuk mendapatkan investor hal lain yang mesti ditunjukan adalah soal kredibilitas yakni dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Membangunnya bukanlah suatu hal mudah, mesti melalui zonansi waktu yang berkelanjutan dengan kerja keras yang konsisten dan persisten. iGrow sendiri terbentuk pada tahun 2011 dan baru dapat investasi di tahun 2013. Ketika mendapatkan funding dari investor pun harus bisa dimanfaatkan untuk kepentingan perusahaan yaitu menggali kebutuhan primer perusahaan yang ada. Tentu, selain mendapatkan investasi, ini juga menjadi investasi jangka panjang ketika mencari investor lainnya.

Di sesi akhir, Mas Jay bicara tentang motivasinya dalam membangun perusahaan walau penuh dengan liku dan kejatuhan. Ia bilang gini :

“kita tidak tahu di butiran mana Ridho-Nya ada, maka salah satu caranya adalah dengan ikhtiar semaksimal mungkin.”

Saya terngaga, dan dalam hati bilang “Anjay”.

Terakhir, yang saya kagumi dari Mas Jay adalah tentang integrasi tiap lini antara islam, teknologi, dan beneficial. Bagaimana beliau bisa mengkolaborasikan hal-hal tadi ke dalam sebuah sistem yang menguntungkan juga bermanfaat. Dalam blog pribadinya beliau pernah bilang tentang visi perusahannya.

“Di Badr Interactive kami punya misi membumikan nilai kebaikan Islam melalui teknologi.”

Kalo ingin tau lebih tentang Mas Jay, bisa buka Kisah Sukses Founder Badr Interactive atau buka blog pribadi beliau di senjaya.net.

Malang,
17/08/2018
Ibnu Dharma Nugraha