All posts filed under “CERPEN

comment 0

Limitasi

Aku tersentak, pikiranku terhenyak, hatiku terisak, batinku lara. Di kananku, serdadu canda tawa terhempas ke udara, obrolan-obrolan memenuhi langit-langit loka pangan yang ada. Hilir mudik manusia tak jemu-jemu untuk berhenti. Beberapa sudah lungguh di hamparan kayu beralaskan tikar menyantap makanan bermangkuk gambar ayam. Makanan bergelimpangan bak harta ghanimah pasca perang. Dentingan gelas bersua-sua, dahaga sirna. Dibenamkan bakso bulat-bulat ke dalam perut buncit 4 cm, kuahnya menambah jadi 6 cm. Sisa bakso bulat masih ada 2, siomay 1, kenangan 5. Lapar berdecit hilang, sendawa bertandang, hatinya senang.

Sementara itu, di kiriku di beranda restoran. Plat motor ciamik berdentengan hiasan aikonik menjengul. Bercorak baju tentara: hijau tua dengan garis belang-belang hitam macam Harimau Sumatera. Stangnya menjulur ekstrem ke bawah tidak seperti stang biasanya. Spionnya tiga: satu di tengah, dua rata sama kiri kanan: kotak cembung memanjang. Bendera merah putih mentereng gagah di pojok-pojok roda berjumlah tiga. Joknya bagai singgasana singa yang akan mengaumi denyut nadi ekspedisi hidup: lebar dan mempesona. Di pungkurnya tampak kotak besar berisikan mainan anak-anak yang meruah bertuliskan “orang cacat tidak minta-minta” dan “petualangan pramuka”.

Si pengendara bak singa itu lingsir di bawah motor aikoniknya. Badannya rampak di permukaan tanah berlapiskan beton kasar. Suaranya bungkam, hanya gerak-gerik tangan indikasi bertahan juga jualan. Tangannya menghempas-hempaskan mainan martil macam kepunyaan thor di film the avengers. Aku sadar, di situ ada kesepian di atas keramaian.

Aku kacau balau : merana, nuraniku bersedu, batinku makin landai laranya; tidak bisa apa-apa. Di depanku tumpukan bakso seronok memerankan kehambaran. Kecap sudah tak semanis manggis, cabai merah melirih lantahkan hati, kuah seakan basi. Pilu meramu, limitasi membatasi. Aku tersungkur ke dalam bayang-bayang kontemplasi tentang dua wajah yang kulihat sore ini.

Dua wajah yang berpaling dengan arah berbeda dan seolah tidak saling sapa. Yang satu, adalah wajah kemakmuran, bergincu harta yang berlimpah ruah, makanan mudah. Sementara yang satu, adalah wajah keterbatasan yang terabaikan, dibingungkan, dikasihani. Aku menggerutu tanda tak mampu, hanya bisa kasihan. Kasihan dengan si ‘kanan’ yang meluapkan lupa ke si ‘kiri’, kasihan dengan si ‘kiri’ juga kasihan dengan diri sendiri. Aku kebingungan di dalam keramaian, hanya bisa diam dan lagi-lagi kasihan. Nuraniku berlafal: Menengadah kepada Tuhan Yang Maha Pemberi dan Mengasihi “Ya Allah, berikan. Ya Allah, mudahkan”.

Malang,
12/08/2018
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Melangitkan Langit

Sore itu, sekitar pukul empat lebih lima belas menit, tidak terlalu ramai. Di serambi masjid fakultas. Hanya ada satu hingga lima mahasiswa yang sedang salat Ashar berjamaah, beberapa lagi mengerjakan tugas di gazebo yang cukup luas dekat masjid. Bercengkrama, tertawa lalu fokus lagi mengerjakan tugas di depan laptopnya.

Seperti biasa, suasana sore cerah adalah suasana yang indah. Di ufuk barat ada langit yang mulai menampakan jingganya. Ada angin yang tidak ramai namun lemah gemulai. Suhu yang tidak begitu tinggi dan tidak begitu rendah seakan memaparkan diri untuk menenangkan hati, tak jarang juga jadi ajang kontemplasi, atau tidur.

Di serambi itu, saya sedang bercengkrama dengan salah satu sahabat saya. Tidak perlu disebutkan namanya, saya takut dia terkenal karena ini. Dengan posisi duduk menyila, bersandar di tembok menghadap ke utara ke luar masjid, kami mulai bercerita ngalor-ngidul, tentang pengalaman, masa depan, dan banyak hal lain. Suasana serambi itu benar-benar membuat nyaman. Mungkin karena tepat di sampingnya ada dua pohon beringin yang besar dengan kanopi pohon yang sangat lebar. Oksigennya langsung masuk ke hidung, diteruskan ke paru-paru lalu dikeluarkan dalam bentuk karbon dioksida. Atau karena masjid memang selalu memberikan irama eksaltasi, yang walaupun tidak panoramik namun artistik–syahdu.

“Bro, jangan terlalu membanggakan mas x. Menyebarluaskan kisah suksesnya ke seantero negeri namun lupa bahwa kita juga punya hidup yang harus di jalani untuk kemashalatan ummat. Tapi belum juga kita lakukan. Hingga detik ini, hingga usia ini.” Ucapnya ditengah pembicaraan seru kami.

Pembicaraan dengan konteks eksistensi dan prestise cukup sering kami bicarakan. Walaupun dalam masalah yang berbeda tapi tetap dalam topik yang sama. Di semester 1 misalnya, diskusi tentang mahasiswa yang sering ikut kompetisi pernah menjadi bahan obrolan kami atau juga jabatan-jabatan mahasiswa di dalam organisasinya tak luput untuk dibahas. Dan kali ini mengenai capaian beberapa orang yang kami kenal dengan umur yang tidak terpaut jauh.

Pemikiran liar sahabat saya kadang bisa menjadi bahan renungan untuk mawas diri akan perubahan-perubahan yang terjadi. Agar tidak pongah. Agar bangun.

“Takutnya kalo berlebihan melebih-lebihkan kelebihan orang lain. Kita jadi lupa bahwa kita juga punya kelebihan yang harus dibuktikan dan juga diterapkan. Kan banyak sekarang yang bercerita tentang hidupnya orang lain. Dari yang baik lah sampai bahkan yang buruk. Tapi lupa bahwa itukan bukan hidup dia.” Ucapnya menambahkan argumennya tadi.

Saya diam agak lama, bukan berfikir untuk menyanggah seperti biasanya. Tapi justru menyanggah fikiran lama saya—incumbent. Memang wajar, sebagai manusia kita akan merasa bangga jika teman, orang terdekat, bahkan yang tak dikenal sekalipun mencapai hal-hal yang luarbiasa, di luar batas kemampuan manusia pada umumnya. Melangitkan yang sudah langit. Dan membumikan yang masih bumi. Namun dalam kacamata teman saya, kita juga seharusnya bisa jadi kebanggaan, bukan hanya membanggakan.

“Tapi kan, kita bisa belajar dari kisahnya, kisah jatuh bangunnya, kisah terpuruknya.” Iseng-iseng saya menyanggah walaupun dalam batin memang menyetujui.

“Maksud gua, jangan sampai berlebihan to. Kisah sukses bukanlah hanya untuk dipelajari lalu disebarluaskan, tapi juga dipelajari lalu dilakukan. Percuma kalo kisah baik mereka hanya tersangkut dalam otak kecil kita, yang kadang juga lupa. Tapi kalo dilakukan justru akan lebih baik kan manfaatnya.” Ucapnya agak keras menandakan ia serius dengan apa yang dikatakan.

Saya perlahan mulai memahami maksud yang ia jelaskan. Saya juga mulai paham bahwa dirinya sedang mengalami kegundahan hati yang cukup dahsyat. Mengingat pada umur 20 tahunan ini masih juga banyak hal yang belum dilakukan sehingga terjerat dengan quarter life crisis, krisis di 1/4 hidup. Saya tahu karena memang kami sudah berteman selama kurang lebih tiga tahun di tanah perantauan ini.

“Jadi gimana?” Saya bertanya dengan nada yang agak memojokan, sekaligus ingin tahu apa yang akan dia lakukan.

“Yaudah, dari dulu kan kita udah tau bahwa hal yang baik dan berada di puncak tidak dapat dicapai dengan cara yang mudah, polanya kan gitu. Pasti ada jatuh yang selanjutnya belajar untuk bangun. Yang sulit memang ikhtiar, istiqomah dan penjagaan idealismenya. Rata-rata orang yang biasa aja kan mereka ngga sabaran, ya mungkin kaya kita. Maunya instan lalu jebret goal tercapai semuanya. Padahal kan ngga kaya gitu” Ia meyakinkan dengan tampang yang kurang yakin.

Saya tidak menyanggah pernyataanya, karena memang tidak ada yang perlu disanggah dari ucapan itu.

“Intinya kita harus berkarya, karena karya adalah bukti bahwa kita pernah ada” Ucapnya dengan gaya yang kekerenan setelah sebelumnya berfikir satu hingga dua menitan.

Di serambi masjid fakultas itu, saya kembali berkontemplasi tentang hal yang sudah dilakukan namun belum juga maksimal. Di serambi masjid fakultas itu, ia menyadarkan bahwa sebagai manusia menjadi bermakna dalam konteks kebermanfaatan haruslah dimulai, bahkan kalo hanya sebatas ukuran biji zarah. Di serambi masjid fakultas itu, saya dan dia kembali merenung–jenjam.

Malang
16/05/2018
Ibnu Dharma Nugraha