All posts filed under “CERPEN

comment 0

Determinasi yang Mati

Ada yang bilang bahwa kenangan indah itu lahir dari berbagai kejadian yang pernah hadir, dipendam dan sesekali dikenang. Seakan kenangan indah akan tetap indah pada termin yang lain. Besok-besok atau jika perlu hari ini aku ingin sekali mereformarsi bahkan merevolusi hal yang demikian, bukan karena tidak ada kejadian, bukan pula karena tidak ada yang dipendam atau dikenang; bukan.

Pasalnya beberapa bagian dari itu adalah sebilah belati yang berputar 180 derajat dari arah depan, atau 360 derajat dari arah belakang. Ujungnya yang berwarna silver agak karatan itu meluat-meluatkan lancipnya ke satu bagian anatomi tubuh yang sangat penting, saking pentingnya anatomi tubuh yang lain akan mengamuk dan jika perlu berkumpul-kumpul, berporak-poranda untuk menahan. Walau sakit.

Bagaimana tidak hati yang dulu kinclong putih tanpa noda, selalu bersiul bahagia yang malamnya diluapkan dalam lamunan mesra nan indah di depan riak-riak air yang jernih. Kini terkaku-kaku termangu meluapkan sendah gelisahnya di depan pematang, berkalut, di bawah pohon, di atas bumi, ditemani senja, dihempas kafilah-kafilah angin berlalu yang gemulai dan digigit penyakit lama yang akut kalau sedang diingat. Warnanya kian hari kian mencolok cokelatnya yang makin lama makin hitam pekat bak ban hitam bermerek bridgestone yang dilumas kit black magic sebanyak tujuh pangkat dua kuadrat di akarkan dua—sama aja.

Hatinya kini dilanda nestapa yang begitu lebat macam rambut kribonya bena kribo yang dikeramasi pantene lalu dibilas dengan air sawah hasil kombinasi dengan larutan kaporit. sungguh wangi dan lebatnya tidak dapat dilayangkan oleh bayang-bayang. Ditambah lagi dilibat sebilah belati lancip berkarat 180 derajat dari arah depan, atau 360 derajat dari arah belakang. Tertusuk, tercabik. Sporadislah dia dan sakit.

Bagaimana ia bisa kembali seperti semula jika yang diharapkannya menjadi semula tidak kunjung juga semula. Bagaimana ia bisa kembali bersiul bahagia bilamana yang ia siul-siul tak lagi muncul. Bagaimana ia bisa kembali beriak-riak jika tidak ada airnya. Bagaimana bisa ia kembali putih jika pemutih yang dulu hadir sekarang sudah kadaluarsa sehingga melupakannya. Bagaimana bisa? Kini yang ia tahu hanya jeruji besi berisi kebahagian yang tertutup rapat dan erat. Di ikat rantai belukar dua belas rantai dibagi dua dikalikan enam yang terkonsilidasi paripurna dengan gembok bermerek HSG dijauhkan dari pasangannya yang tumpul bergelombang absurd agak karatan: kunci. Di jaga ketat oleh kutukan-kutukan masa kini yang mencekam, jahat  bak awan cumulonimbus yang mudah marah jika dibenturkan dengan lawan kutubnya. Glegar! Gledek! Glegar! Gledek! begitulah bunyinya. Cengklang! Cengkling! Cengklang! Cengkling! begitulah kilatnya.

Ditempatkan di bagian inti bumi; bagian bumi yang paling dalam, dipojokan dan terlupakan. Terbakarlah ia saking panasnya.

Kini hatinya mudah marah jika ada yang bertukar pikiran atau nasib tentang kehidupan romansa dialektika dua sejoli belum sah, sesuai nalar dan berlogika, namun tidak berdasar moral beragama. Konon dulu, pernah ada hati lain yang mampir di hatinya, ngekos hingga ngontrak. Bertalu-talu lalu terdeterminasi menjadi ketetapan hati, menjadi rasa kemudian mati. Tapi kini, hati itu sudah kabur di bawa hati yang lain yang lebih luas, lebih putih, lebih mantap siulannya, lebih gagah riakkannya, lebih jernih airnya saking jernihnya katak sampai lupa daratan bahkan sampai lupa dia amfibi. Lebih terbukti pastinya.

Pernah satu waktu ada pihak yang ingin merekonsiliasikan hatinya dengan hati yang telah di ajak pergi oleh hati yang lain itu. Tapi sayang beribu sayang, tapi sayang berbapak sayang, tapi sayang berbibi sayang—jika dilanjutkan bisa sampai cicit-cucut-cecet. Hati lain itu tidak ingin kembali. Tidak ingin berekonsiliasi. Tidak ingin ngontrak dengan masa kontrak yang jangkanya saja tidak pasti. Reyot dan penuh petaka.

Ia sudah betah, gegap gempita, bahagia dengan hati yang membawanya pergi. Lebih tepatnya hati yang memberikannya kepastian, bukan kepalsuan. Memberikan bukti, bukan janji. Datang dengan gagah, bukan gegabah. Meminta restu, bukan merayu. Melewati jalan yang pantas, bukan pintas. I’tikadnya baik, bukan picik. Ikhtiarnya lurus, bukan jadi virus. Begitulah ia hingga akhirnya menjadi rumah indah bagi hati yang pergi itu hingga sakinahmawadahwarahmah. Hingga beranak-pinaklah hatinya melahirkan hati-hati suci yang lain. Hingga mautlah yang akan memisahkan dua hati itu. Apa-apaan ini?!

Determinasinya telah mati ditinggal pergi oleh hati yang telah cukup lama menetap namun tidak pernah ditetapkan sebagai bagian pelipur lara juga bahagia dalam hubungan yang benar-benar benar. Hati yang telah pergi telah meminta pula kepastian setiap hari: sehari tiga kali, malam, siang, pagi. Hati yang telah pergi telah lama pula tahan dari musim hujan ke delapan sampai musim kemarau ke sembilan. Hati yang telah pergi telah sabar pula hingga puncaknya terpapar pancaran kelakar dari persatuan setan dua sejoli hingga kalau bablas bisa jadi tiga sejoli kalo bablas lagi bisa jadi dua sejoli kembali.

Hati yang ditinggal kikuk berkalut itu akhirnya sadar bahwa determinasi yang mati adalah salahnya sendiri, tidak dan bukan salah hati yang membawa hati yang pernah ngontrak itu pergi. Kembali ia tercenung merenung di depan pematang, di bawah pohon, di atas bumi, ditemani senja makin merunduk yang sedikit lalu berbisik jahat namun baik. “Jika sudah siap baru datangilah, ketuklah dan ucapkan dengan takzim maksud dan tujuan dan visi-misi dan rencana dan harapan dan impian dan kepastian dan cita dan cinta dan lain-lain dan sebagainya dan seterusnya.” Ucapnya yakin serta kuat macam akar beringin umur 100 tahun tercekam erat sampai horizon tanah B dan hebatnya menyelisik lalu terserap ke bagian anatomi tubuh yang lain. Bergetar dan tersadar. Sekali lagi. Apa-apaan ini?!

Kuningan,
22 Juni 2018
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Si Genius yang Berdiam Diri dan Petani-Petani yang Mati

Aku ingin menceritakan kisah yang sering dibicarakan orang di desa kami, yaitu tentang Si Genius yang berdiam diri. Kenapa ia dikatakan demikian? Sebab memang begitu, ia Si Genius adalah sarjana terkemuka  dari sebuah Universitas Negeri yang sangat mahsyur di negara kami. Tapi, tanpa sebab yang tidak diketahui oleh siapapun ia lebih memilih untuk berdiam diri.

Ceritanya sendiri sudah dari beberapa tahun yang lalu, semenjak ia lulus dari universitas itu. Si Genius datang ke desa kami, rumahnya berada dekat dengan pemukiman petani, dulu, ayahnya juga petani yang kaya. Awalnya, kami biasa saja. Seperti pemuda pada biasanya, Si Genius datang ke perkumpulan warga, mengikuti diskusi yang biasanya terjadi satu kali dalam dua minggu. Hingga momen itu pun terjadi.

Suatu hari saat diskusi terkait pertanian tengah berlangsung di balai desa, ia Si Genius datang.

“Aku punya ide agar desa kita lebih baik, tanpa pertanian,” begitu ia mengatakan dengan yakin dan lantang suaranya.

Di balai itu, kami para petani dengan pejabat desa menatapnya dengan terheran-heran juga marah. “Bagaimana?” Tanyaku, sepengetahuanku yang awam, pertanian sudah menjadi mata pencaharian utama kami untuk hidup dan makan, juga sudah menjadi warisan turun temurun dari generasi ke generasi.

“Ya, aku punya ide yang lebih baik, dibanding harus berkumuh susah dan tidak pasti hasil taninya dijual kemana.” Dengan tenang, ia kembali berkata, tanpa memperhatikan emosi warga yang sedang meluap-luap.

“Apa maksudmu!! Kami telah bertahan hidup bertahun-tahun dengan cara ini.” Ucap salah satu temanku, sambil berdiri dan menunjukan jari telunjuknya kepada Si Genius.

Wajah pongah Si Genius terlihat cukup jelas, seolah ia paham akan segala hal yang ada di desa kami, seolah ia paham akan nasib dan kehidupan kami.

“Aku punya rencana besar, kita jual lahan pertanian, untungnya bisa berkali-kali lipat dibanding yang kalian pernah bayangkan.”

Betapa marahnya kami mendengar perkataan itu muncul dari Si Genius. Pemuda yang baru singgah beberapa minggu dan mencetuskan ide gilanya kepada kami para petani dan pemuka desa. Semenjak kejadian itu, kami mulai tidak senang terhadapnya. Orang-orang mulai mencibirnya, dan para pemuka desa tidak acuh mendengar sarannya.

Dua bulan berikutnya, tanpa sebab yang jelas, air untuk sawah yang kami punya, yang biasanya mengalir riuh tanpa jeda suka tersendat-sendat dan kadangkala berhenti. Kami, para petani berkumpul untuk menyelesaikan permasalahan ini. Usul demi usul keluar, beberapa petani mencoba menjelajah aliran air irigasi hingga sampai ke sumber mata airnya: masih ada.

“Aku heran,” kata salah satu petani yang juga temanku. “Dari dulu kita tidak memiliki masalah yang seperti ini. Dulu air lancar-lancar saja, sawah dapat tergenang meskipun bukan musim penghujan. Sekarang ini, malah sulit untuk mendapatkan air.”

“Jangankan kamu, aku juga bingung dan heran,” petani yang lain seolah menyetujui.

Hari itu kami semua kebingungan, serta kemudian kembali ke rumah masing-masing.

Esoknya, dilanda oleh rasa penasaran, aku seorang diri kembali menyusuri kembali aliran irigasi yang menjadi sumber mata air lahan pertanian kami. Menyusuri tiap saluran demi saluran: teliti, hingga langit mulai menampakan jingganya dan suara serangga mulai menyeruak. Di akhir waktu pasrahku, di tengah aliran irigasi ketika aku ingin pulang. Kutemukan hal yang ganjil, aliran itu tidak mengarah ke lahan kami. Setelah lebih aku teliti, aliran menuju ke timur. Ke tempat perusahaan semen yang baru saja berdiri lima bulan lalu.

Malam sudah tiba. Bintang mulai bertaburan. Adzan isya sudah berkumandang. Di dalam kegelisahan yang aku rasakan, aku berlari dengan sekonyong-konyong ke tiap rumah warga yang juga petani dan mengajaknya ke balai desa. Aku bilang penting. Dan aku ceritakan kejadian yang baru aku alami.

“Apa!! Berani-beraninya air kita diambil, dan digunakan untuk semen-semen itu!!” Ucap seorang petani di tengah panas hati kami memikirkan.

“Ini ngga bisa dibiarin, besok kita harus ke perusahaan semen itu dan menuntut segala hal, jika perlu, kita bawa ini ke ranah hukum.” Tambah petani tadi.

Segera, setelah kami berdiskusi panjang betul dengan atensi emosi yang meluap-luap, kami segera pulang kembali ke rumah masing-masing. Batinku masih kesal. Juga hati warga yang lain.

Di hari berikutnya, kami datang, menuntut yang kami bisa tuntut. Namun nihil, perusahaan itu sudah memiliki hukum yang jelas termasuk dengan aliran air yang semula kami gunakan untuk irigasi. Kami pulang dengan iba dan sungkawa, air irigasi kami telah mati, dimatikan oleh orang hidup yang hatinya mati.

Berbulan-bulan kemudian, demo demi demo kami lancarkan. Dari awal di desa, hingga kabupaten, hingga kota, bahkan negara. Namun, seperti yang kami duga, di negara kami. Keadilan bukanlah suatu yang murah harganya, ia tidak bisa dibayar oleh keringat, oleh rasa susah, bahkan oleh rasa adil itu sendiri. Keadilan di negeri kami sangat mahal bagi kami, tapi murah bagi mereka, yang memilik banyak lembaran-lembaran wajah pahlawan berwarna merah di bank mereka. Membayangkannya saja aku tak sanggup.

Pada epilog kesusahan dan ketidakmungkinan kami. Aku dan petani yang lain mengikuti saran Si Genius untuk menjual lahan pertanian kami. Pada mulanya bagus, kami bisa menghidupi keluarga dengan secukupnya, anak-anak bisa kami sekolahkan hingga SMA tanpa takut tidak bisa sekolah karena gagal panen. Semenjak itu juga, lahan sawah yang kami jual mulai berubah menjadi lahan beton, aliran irigasi menjadi aliran limbah perusahaan semen.

Harga padi menginjak umur tiga tahun setelah sawah kami jual, makin naik. Warga makin kesulitan dan semenjak itu Si Genius menjadi pendiam dan mendiamkan dirinya, tidak pernah lagi mengikuti diskusi yang sering kami lakukan dua minggu sekali. Yang kami lihat, Si Genius sering pergi ke luar kota. Memasarkan produk semen dari perusahaan semen di desa kami.

Para sahabatku, demikianlah kisah Si Genius yang Berdiam Diri, dan demikianlah cerita ini dan kami para petani mulai berakhir.

 

Malang,
19 Desember 2018
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Jon Jon dan Jun Jun

Jon Jon resah. Internet hari itu sedang putus. Pasrah. Jon Jon membuka laptopnya, menyalakan ulang, lalu menyambungkan kembali pada wifi yang biasanya dilakukan. Tetap putus. Makin pasrah.

Jon Jon bersandar kembali ke bangkunya. Bingung dipikirnya. Internet tidak kunjung tersambung. Ia bingung tetap pasrah. Sesekali Jon Jon menyebut nama hewan haram jadah. Sesekali juga memukul ke kirinya, sebuah tembok putih yang cukup keras. Hewan haram jadah kembali disebutnya, kali ini bukan karena internet yang tidak kunjung tersambung.

Namun, karena tangan kanannya berdarah, pelipis jari tengah terkelupas dengan lebam biru yang cukup terang setelah menabrakan ke dinding putih tadi. Nyeri sedikit, tapi pikir Jon Jon lebih nyeri tidak ada internet.

Jon Jon lalu bergumam di otaknya. Jika internet tidak ada, apa yang bisa dilakunnya. Jon Jon pikir, tidak ada. Lalu, tetiba Jon Jon teringat. Ia punya website pribadi yang sudah usang dengan pengunjung yang rata di angka puluhan. Jon Jon terpikir di otaknya untuk membuat postingan baru . Lalu, ia mengurungkan niatnya. Buat apa? Jon Jon kembali berpikir. Toh, tetap usang dan pengunjungnya tidak akan sampai ke angka ratusan atau ribuan atau jutaan seperti penulis lainnya. Jon Jon mengurungkan niatnya.

Diam tidak biasa di bangku yang di duduki Jon Jon. Cukup lama. Jon Jon bangkit dari bangkunya, berpindah ke tempat tidur yang tepat berada di kanannya. Merebahkan badannya, menarik selimutnya, memeluk gulingnya, menutup matanya. Jon Jon terlelap dalam tidurnya.

Hujan rintik di luar kamarnya. Buat Jon Jon itu baik, sebab tidurnya dapat lebih baik juga.

Di samping kamarnya. Teman Jon Jon yaitu Jun Jun sedang membaca. Sesekali menulis dengan versi yang berbeda dari bacaan yang dibacanya. Satu paragraf hingga jadi belasan singkat. Sebuah cerpen Jun Jun berjudul Jon jon. Ceritanya, Jon Jon resah juga pasrah. Sebab, internetnya tidak tersambung-sambung juga.

Hujan juga rintik di luar kamarnya. Buat Jun Jun itu baik, sebab tulisannya dapat lebih baik juga.

 

Malang,
14/12/2018
Ibnu Dharma Nugraha