All posts filed under “CERITA HIDUP

comment 0

Aiihh, Suka Sekali

Saya suka tinggal di Malang. Selain udara, suhu, dan masyarakatnya yang ramah, masjidnya juga bagus-bagus. Tidak begitu luas tapi aktif dan ramai. Beberapa masjid bahkan mengadakan kegiatan rutin berupa pengajian, kajian, hingga pengajaran. Sungguh, ini jarang ditemui di tempat saya dulu tinggal, jikapun ada tidak sebanyak di Malang. Atau, memang saya yang jarang ke sana.

Di jalan lurus dengan beberapa pohon yang rindang di tepi-tepinya, ada satu masjid yang selalu saya suka. Di Malang. Sebabnya adalah arsitektur bangunannya yang rancak ditemani beberapa pohon rindang tadi di luarnya. Walaupun tidak ada AC, masjidnya tetap nyaman dan juga dingin. Barangkali, setelah saya pikir hal ini selalu jadi misteri, setiap masjid selalu memberikan irama sirkadian walaupun lagi-lagi tidak ada AC di dalamnya. Bolehlah mengantuk sementara dan tidur lama di dalamnya.

Baik, saya akan kembali ke masjid tadi. Masjidnya bagus, dinding luarnya terbuat dari kaca yang sangat tebal. Hingga saat ini, saya belum menemukan kejadian ada kaca yang pecah. Jadinya, cahaya matahari mudah masuk ke dalam. Di dalamnya ada beberapa rak tempat untuk menaruh kitab suci Al-Qur’an yang tepat di atasnya berjejer beberapa kipas angin dengan jarak yang relatif jauh. Lantainya berwarna coklat dengan motif garis-garis. Di atasnya ada sajadah sepanjang shaf shalat berwarna merah. Lembut, wangi, dan juga nyaman.

Di luar masjid, ada beberapa pohon yang rindang. Mengeluarkan gas O2, tapi jangan salah. Pohon itu juga barangkali dapat menyerap polusi yang dikeluarkan motor ataupun mobil yang pengendaranya akan sembahyang di masjid tersebut. Parkirnya cukup luas, tidak pernah terlalu sumpek. Atau memang tidak banyak yang datang ke sana. Atau juga, yang kebanyakan datang adalah para pejalan kaki. Ntahlah.

Tempat wudhunya juga cukup nyaman dan bersih. Ada semacam tempat duduk yang disediakan, hipotesa saya, itu digunakan apabila ada jama’ah yang kesulitan untuk berdiri. Tempat wudhu ini bagi pria, terpisah dengan wanita yang letaknya ada di lantai dua. Di luar masjid dekat tempat wudhu, disediakan juga jalan menanjak dan juga kursi roda. Siapa tahu, ada yang sedang sakit dan tidak bisa jalan, maka kursi roda dan jalan menanjak tadi dapat digunakan.

Kamar mandinya cukup banyak, air juga banyak, barangkali yang kurang banyak adalah jama’ahnya. Termasuk saya, sayang sekali jika kamar mandi dan juga jejeran sajadah yang dibentangkan tidak digunakan. Jika mereka bisa berbicara, barangkali akan menggerutu atau mungkin akan senang karena masih dalam kondisi baru.

Adzan lalu berkumandang, suaranya merdu. Ada jeda antara waktu adzan ke waktu iqomah, mempersilahkan para jama’ah untuk melaksanaan sembahyang yang lain: qobliyah, sholat sunnah sebelum sholat wajib. Imamnya juga merdu, ah, insha allah khusyu.

Sepertinya, masjid ini akan selalu saya kenang, bahkan setelah saya menyelesaikan urusan saya di Malang. Walaupun tidak sebegitu sering.

Sepertinya lagi, nama masjid ini diambil dari sejarah para pengikut Nabi Muhammad yang pada saat itu hijrah dari Mekkah menuju Habsyah hingga terakhir ke Madinah. Bertemu dengan Kaum Anshar. Rekatlah ikatannya sehingga membentuk masyarakat dan pemerintahan yang Islami untuk menyebarluaskan nilai-nilai islam ke penjuru Jazirah Arab. Al-Muhajirin.

 

Malang,
9 Januari 2019
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Ide Hanya Ide

Dua pekan lalu saya ikut kegiatan pelatihan digital yang diadakan ole Gapura Digital yang merupakan cucu dari cucunya Google. Saya ikut beberapa rangkaian pembelajaran: mulai dari ide, google bisnis site, SEO dan SEM hingga efektivitas sebuah platform website. Materinya menarik, walaupun masih sebatas muqadimah di dalam tataran bisnis yang begitu kompleks. Hal ini pun saya kira wajar, karena tujuan dari rangkaian-rangkaian yang dilakukan adalah untuk membuat online kan sebuah bisnis UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang beberapa-nya masih menjalankan cara-cara yang konvensional.

Peserta yang datang dari beberapa segmen demografi. Namun, mayoritasnya adalah para pelaku bisnis UMKM yang rerata sudah berusia 30-an ke atas. Saya agak kikuk karena beberapa diantaranya sudah bisa hidup dan menghidupi keluarganya dari bisnis yang dijalankan. Bisnisnya bermacam-macam, mulai dari kuliner, properti maupun jasa. Yang menarik ternyata bisnis yang dijalankan kebanyakan sudah berafiliasi dengan internet, sudah juga melakukan advertising dengan biaya yang bagi saya tidaklah murah. Dan lagi, yang saya kagumi adalah iterasi belajar dan upgrade ilmu dari para peserta yang hadir. Satu pelajaran berharga, ide hanya ide.

“Bisnis saya adalah menyewakan kasur.” Ucap salah satu peserta pada sesi sharing dan diskusi.

“Serius mas? Customer segmentnya bagaimana?” Tanya heran pemateri.

Peserta yang lain mulai memperhatikan antara takjub dan bingung. Termasuk saya.

“Ada mas, kalo engga ada engga mungkin saya jualan. Rata-rata adalah para pemilik penginapan mas atau hotel yang baru dibuka. Biaya kasur yang relatif mahal, kalopun ada yang murah biasanya kurang empuk dan nyaman. Jadi, inisiatifnya adalah dengan nyewa. Dan saya salah satu penyedianya.”

Peserta lain tetap memperhatikan. Makin takjub. Makin bingung. Lagi-lagi termasuk saya.

“Engga sekalian bukan jasa sewa handuk mas?” Salah satu peserta bertanya. Kadangkala ‘bertanya’ dan ‘meremahkan’ adalah satu simbiosis yang mengerikan.

“Ya, rencana saya kedepan akan buka jasa sewa handuk juga. Doakan saja.”

Peserta lain beberanya berkelakar. Setengah dari beberapa yang lain nyinyir dan menggerutu. Setengahya lagi nyinyir dalam diam. Dan, kali ini saya takjub. Keren. Ide sederhana dengan realisasi luar biasa. “Semangat Pak,” dalam hati saya bergumam.

Sederhana bisa mendongak
Yang besar malah melungsur
Hey, pemimpi boyak!
Segeralah meluncur!

Orang kuat berenang
Orang pintar konferensi
Idemu ide kelompang
Segerelah beraksi

Jack Ma rancak dalam berbicara.
Tapi hey!! Dia sudah suffering lalu bahagia.

Malang,
28 September 2018
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Engga Penting

Gara-gara smartphone saya rusak akibat bootlop: pas restart cuman mentok di logo doang. Saya mesti instal ulang smartphone yang ngebuat beberapa aplikasi jadi terbarukan versinya. Padahal, hal ini yang saya wanti dan hindari. Aplikasi sebelum smartphone saya rusak tergolong lawas. Aplikasi line misalnya, pada saat itu masih sekadar aplikasi chatting, posting dan ngirim file. Udah cukup lah buat bantu tugas-tugas kuliah dan organisasi, belum ada fitur ulang tahun atau juga berita-berita. Pas update, muncul fitur baru yang nirfaedah: recent updates profiles. Ini semacam fitur yang ngasih tau kalo kontak di line ganti profile. Buat apa? Penting? Seriuously? Line, Lo kurang kerjaan.

Akhirnya, saya coba cari cara untuk kembali ke versi lawas, toh aplikasi ini cuman saya gunain buat chatting dan ngirim beberapa file. Saya coba instal APK line versi lama. Eh, malah error dan disuruh update ke versi yang baru. Dalam hati, ini konspirasi. Terpaksa fitur recent updated profiles ini beberapa kali saya gunain, posisinya yang menjengul di depan home buat saya kepincut juga untuk mencet-mencet. Sekadar ingin tahu dan kepo. Asik juga.

Sebenarnya konsep update ini punya guna untuk memperbaharui versi lama agar tampil menjadi lebih baik lagi. Entah dari segi User Interface (UI) berupa visualisasi aplikasi yang buat mata biar engga lelah maupun juga User Experience (UX) supaya si ‘user’ bisa gunain aplikasinya dengan nyaman terhindar dari kebingungan. Tapi, kalo konteksnya media sosial saya rasa ranahnya jauh lebih privat.

Adanya upgrade aplikasi rupa-rupanya beratensi ‘samar’ sama adiksi: agar si ‘user’ tiap pagi, siang hingga petang mau nyelam lama di layar buat scroll dan kepo-kepo, atau sekadar tahu informasi ‘renik’ biar engga FOMO (Fear of Missing Out). Fitur dan menu baru perlahan mulai ditambahkan dan mengalami scalling up. Kalo dulu hanya sebatas chatting, kini bisa lebih luas: buat postingan, ucapan hari ulang tahun, komentar, like, video, dan hal lain yang buat si ‘user’ betah. Hal ini pun engga tiba-tiba. Research psicology bermain. Timing dalam menambahkan fitur baru bekerja. Adiksi yang semula lemah kembali rujuk dan mulai lagi menampakan tanduknya. Alhasil, lama intensitas menjadi rutinitas. Pagi, siang hingga petang. Eleuh-eleuh.

Media sosial kian hari kian pintar aja alibinya. Alih-alih memfasilitasi si ‘user’ buat eksis gunain media dengan fitur-fitur terbarunya. Nyatanya, justru fitur terbaru tersebut yang terfasilitasi agar bisa terafiliasi paripurna dengan si ‘user’. Biar engga jemu. Padahal, jemu sendiri adalah bentuk refleksi terhadap usang yang dilalui. Nah kalo gini, upgrade media sosial jadi serasa “Engga Penting” dan emang “Engga Penting”.

Malang,
06 September 2018
Ibnu Dharma Nugraha