comment 0

Bebas Lepas Beban Berat

Semisal ada yang tanya ke saya siapa pemberi kebebasan terbesar. Saya bisa jawab kedua orang tua saya. Ayah dan Ibu saya. Pahlawan Negara? Mereka juga punya andil, tetapi selama 20 tahunan saya hidup ini bisa dibilang Ayah dan Ibu sayalah yang membebaskan saya untuk memilih apapun. Pertanyaannya justru, apakah ini suatu hal yang memberatkan atau menyenangkan? Apalagi menjelang fase dewasa. Hmm.

Semasa masuk SMP dulu saya pernah diterima di dua sekolah yang cukup bergengsi. Yang satu ada di Kota: SMP favorit. Yang satu di Desa: Pesantren favorit. Saya pilih pesantren. Sebab, impiannya dulu bisa punya ranjang dan lemari. Punya sendiri. Belajar mandiri. Orang tua mengizinkan, hingga saya belajar beberapa bulan. Tapi, menjelang tahun ke-dua, saya mulai tidak betah. Ibu saya datang ke pesantren itu. Kami berbincang cukup lama. Yang saya ingat beliau bilang untuk tetap melanjutkan hingga tahun ke-tiga. Maklum, biaya untuk masuk pesantren itu cukup mahal. Ada uang bangunannya. Yang bisa sampai jutaan. Yang beberapa orang membatalkan karena biaya masuknya. Zaman itu merupakan angka yang besar. Setidaknya bagi keluarga kami.

Selepas sekolah di pesantren itu. Di tahun ke-tiga. Saya bilang mau pindah ke sekolah negeri. Yang sistemnya beda dengan pesantren saya dulu. Yang tidak terlalu ketat aturannya. Yang biayanya lebih murah. Yang bisa pulang ke rumah tiap saat. Dan yang ada perempuannya di kelas. Ayah saya mengizinkan lagi, pun dengan ibu saya. Saya diterima walaupun bukan yang favorit di kota. Saya juga diizinkan membawa motor ke sekolah itu. Tapi di tahun ke-dua, setelah saya punya KTP dengan SIMnya.

Hingga kuliah. Saya kembali memutuskan sendiri. Ayah saya sebetulnya ingin saya masuk AKPOL. Meneruskan pekerjaan beliau, di kepolisian. Yang pendaftarnya banyak. Masuknya susah. Seleksinya ketat. Tapi, saya pernah kecelakaan di kelas dua SMA: ketika main bola. Yang menyebabkan gigi saya rusak. Saya gagal sebelum mencoba. Padahal, sudah cukup menyiapkan.

Tapi, ayah bilang setiap orang ada rezekinya. Ada jalur tangannya. Ada jalannya. Tekad saya bulat untuk merantau. Pergi ke kota nun jauh di sana. Adat berbeda. Orang berbeda. Beberapa makanan berbeda. Tapi tetap sama, satu Indonesia. Di pulau jawa: Jawa Timur. Berjarak beberapa provinsi dari provinsi saya tinggal: Jawa Barat.

Perguruan tinggi bebas untuk saya pilih. Jurusan pun demikian. Tempat tinggal. Pergaulan. Tidak pernah ditanya mau jadi apa. Hidup memang mengalir. Termasuk keputusan saya pada saat itu.

Hingga titik akhir kuliah ini. Orang tua dan keluarga lagi-lagi memberikan kebebasan. Akan S-2. Ataupun kerja. Ataupun wirausaha. Ataupun ikut kegiatan sosial nun lebih jauh lagi di sana. Selalu membebaskan. Asalkan senang juga bermanfaat. Asalkan bisa hidup dari pilihan yang diambil.

Kebebasan selalu menyenangkan. Tidak ada kekangan. Bebas pilihan. Tidak ada alasan. Tapi. Ada kewajiban dalam kebebasan. Mau jadi apa kita. Bisa apapun. Mau dimana kita. Bisa dimanapun. Bertanggung jawabkah kita. Tidak bisa dilakukan oleh siapapun.

Malang,
2 April 2019
Ibnu Dharma Nugraha

Tinggalkan Balasan