comment 0

Mestinya Sih Rutin, Mestinya Sih, Mestinya

Kemarin hari saya datang ke kampus. Diajak teman untuk olahraga. Dikira saya seperti biasanya yaitu lari pagi. Tapi bukan, teman saya bilang olahraga Calisthenic. Saya bingung dan saya tanya. “Olahraga macam apa?”, tanya saya. Dia bilang coba Googling. Saya sedang malas buka browser. Lagi asik dengerin musik dan chat orang sana-sini. Tapi, saya setuju, karena memang saya suka olahraga. Badminton, lari pagi, bola bekel, dan PUBG. Kecuali yang jenis itu, ya kamu tau lah maksudnya. Apalagi buat laki-laki. Yang sering dijadikan bahan candaan.

Sepuluh menit kemudian dia jemput saya. Kos kami kebetulan berdekatan. Kampus juga berdekatan. Yang tidak dekat mungkin hubungin dia dengan pacarnya. Bukan saya yang bilang, tapi dia yang cerita. Ok skip.

Kampret!

Kami sampai di lokasi. Ketika itu saya sadar kalo ternyata olahraga Calisthenic itu olahraga berat. Saya akhirnya buka Google. Salah satu tujuan olahraga ini “katanya” buat ngebuat otot jadi makin otot. Yang kalo di perut jadi kotak-kotak. Yang kalo di tangan bentuknya jadi kaya paha ayam. Kira-kira gitu.

Saya agak kaget. Otot saya juga kaget. Apalagi bagian lengan. Yang dipaksa untuk ngangkat badan. Yang bentuknya masih belum kaya paha ayam. Yang lebih mirip lidi lima ratusan. Yang kalo ditekuk tetap sama aja. Sejujurnya saya jarang olahraga kaya gini, terakhir rutin mungkin waktu SMA. Baru tiga kali pull up lengan saya menyerah. Tapi tidak apa-apa. Setidaknya sudah mencoba. Dasar, lengan yang malang.

Teman saya itu ternyata sudah sering nge-gym. Langganan di tempat gym kampus. Saya lihat daftar hadirnya juga rutin. Seminggu bisa beberapa kali. Pull up barangkali sudah tidak ada apa-apanya.

Adam Grant. Profesor di bidang psikologi pernah bilang kalo kuantitas menghasilkan kualitas. Semakin banyak kita mencoba, semakin kita terbiasa. Kira-kira gitu.

Sepertinya, selain badminton, lari pagi ataupun olahraga PUBG. Saya mesti lakuin olahraga yang kaya gini. Setidaknya,,,,, tiga bulan sekali. Ya, hanya sekali.

Malang,
4 April 2019
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Bebas Lepas Beban Berat

Semisal ada yang tanya ke saya siapa pemberi kebebasan terbesar. Saya bisa jawab kedua orang tua saya. Ayah dan Ibu saya. Pahlawan Negara? Mereka juga punya andil, tetapi selama 20 tahunan saya hidup ini bisa dibilang Ayah dan Ibu sayalah yang membebaskan saya untuk memilih apapun. Pertanyaannya justru, apakah ini suatu hal yang memberatkan atau menyenangkan? Apalagi menjelang fase dewasa. Hmm.

Semasa masuk SMP dulu saya pernah diterima di dua sekolah yang cukup bergengsi. Yang satu ada di Kota: SMP favorit. Yang satu di Desa: Pesantren favorit. Saya pilih pesantren. Sebab, impiannya dulu bisa punya ranjang dan lemari. Punya sendiri. Belajar mandiri. Orang tua mengizinkan, hingga saya belajar beberapa bulan. Tapi, menjelang tahun ke-dua, saya mulai tidak betah. Ibu saya datang ke pesantren itu. Kami berbincang cukup lama. Yang saya ingat beliau bilang untuk tetap melanjutkan hingga tahun ke-tiga. Maklum, biaya untuk masuk pesantren itu cukup mahal. Ada uang bangunannya. Yang bisa sampai jutaan. Yang beberapa orang membatalkan karena biaya masuknya. Zaman itu merupakan angka yang besar. Setidaknya bagi keluarga kami.

Selepas sekolah di pesantren itu. Di tahun ke-tiga. Saya bilang mau pindah ke sekolah negeri. Yang sistemnya beda dengan pesantren saya dulu. Yang tidak terlalu ketat aturannya. Yang biayanya lebih murah. Yang bisa pulang ke rumah tiap saat. Dan yang ada perempuannya di kelas. Ayah saya mengizinkan lagi, pun dengan ibu saya. Saya diterima walaupun bukan yang favorit di kota. Saya juga diizinkan membawa motor ke sekolah itu. Tapi di tahun ke-dua, setelah saya punya KTP dengan SIMnya.

Hingga kuliah. Saya kembali memutuskan sendiri. Ayah saya sebetulnya ingin saya masuk AKPOL. Meneruskan pekerjaan beliau, di kepolisian. Yang pendaftarnya banyak. Masuknya susah. Seleksinya ketat. Tapi, saya pernah kecelakaan di kelas dua SMA: ketika main bola. Yang menyebabkan gigi saya rusak. Saya gagal sebelum mencoba. Padahal, sudah cukup menyiapkan.

Tapi, ayah bilang setiap orang ada rezekinya. Ada jalur tangannya. Ada jalannya. Tekad saya bulat untuk merantau. Pergi ke kota nun jauh di sana. Adat berbeda. Orang berbeda. Beberapa makanan berbeda. Tapi tetap sama, satu Indonesia. Di pulau jawa: Jawa Timur. Berjarak beberapa provinsi dari provinsi saya tinggal: Jawa Barat.

Perguruan tinggi bebas untuk saya pilih. Jurusan pun demikian. Tempat tinggal. Pergaulan. Tidak pernah ditanya mau jadi apa. Hidup memang mengalir. Termasuk keputusan saya pada saat itu.

Hingga titik akhir kuliah ini. Orang tua dan keluarga lagi-lagi memberikan kebebasan. Akan S-2. Ataupun kerja. Ataupun wirausaha. Ataupun ikut kegiatan sosial nun lebih jauh lagi di sana. Selalu membebaskan. Asalkan senang juga bermanfaat. Asalkan bisa hidup dari pilihan yang diambil.

Kebebasan selalu menyenangkan. Tidak ada kekangan. Bebas pilihan. Tidak ada alasan. Tapi. Ada kewajiban dalam kebebasan. Mau jadi apa kita. Bisa apapun. Mau dimana kita. Bisa dimanapun. Bertanggung jawabkah kita. Tidak bisa dilakukan oleh siapapun.

Malang,
2 April 2019
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Determinasi yang Mati

Ada yang bilang bahwa kenangan indah itu lahir dari berbagai kejadian yang pernah hadir, dipendam dan sesekali dikenang. Seakan kenangan indah akan tetap indah pada termin yang lain. Besok-besok atau jika perlu hari ini aku ingin sekali mereformarsi bahkan merevolusi hal yang demikian, bukan karena tidak ada kejadian, bukan pula karena tidak ada yang dipendam atau dikenang; bukan.

Pasalnya beberapa bagian dari itu adalah sebilah belati yang berputar 180 derajat dari arah depan, atau 360 derajat dari arah belakang. Ujungnya yang berwarna silver agak karatan itu meluat-meluatkan lancipnya ke satu bagian anatomi tubuh yang sangat penting, saking pentingnya anatomi tubuh yang lain akan mengamuk dan jika perlu berkumpul-kumpul, berporak-poranda untuk menahan. Walau sakit.

Bagaimana tidak hati yang dulu kinclong putih tanpa noda, selalu bersiul bahagia yang malamnya diluapkan dalam lamunan mesra nan indah di depan riak-riak air yang jernih. Kini terkaku-kaku termangu meluapkan sendah gelisahnya di depan pematang, berkalut, di bawah pohon, di atas bumi, ditemani senja, dihempas kafilah-kafilah angin berlalu yang gemulai dan digigit penyakit lama yang akut kalau sedang diingat. Warnanya kian hari kian mencolok cokelatnya yang makin lama makin hitam pekat bak ban hitam bermerek bridgestone yang dilumas kit black magic sebanyak tujuh pangkat dua kuadrat di akarkan dua—sama aja.

Hatinya kini dilanda nestapa yang begitu lebat macam rambut kribonya bena kribo yang dikeramasi pantene lalu dibilas dengan air sawah hasil kombinasi dengan larutan kaporit. sungguh wangi dan lebatnya tidak dapat dilayangkan oleh bayang-bayang. Ditambah lagi dilibat sebilah belati lancip berkarat 180 derajat dari arah depan, atau 360 derajat dari arah belakang. Tertusuk, tercabik. Sporadislah dia dan sakit.

Bagaimana ia bisa kembali seperti semula jika yang diharapkannya menjadi semula tidak kunjung juga semula. Bagaimana ia bisa kembali bersiul bahagia bilamana yang ia siul-siul tak lagi muncul. Bagaimana ia bisa kembali beriak-riak jika tidak ada airnya. Bagaimana bisa ia kembali putih jika pemutih yang dulu hadir sekarang sudah kadaluarsa sehingga melupakannya. Bagaimana bisa? Kini yang ia tahu hanya jeruji besi berisi kebahagian yang tertutup rapat dan erat. Di ikat rantai belukar dua belas rantai dibagi dua dikalikan enam yang terkonsilidasi paripurna dengan gembok bermerek HSG dijauhkan dari pasangannya yang tumpul bergelombang absurd agak karatan: kunci. Di jaga ketat oleh kutukan-kutukan masa kini yang mencekam, jahat  bak awan cumulonimbus yang mudah marah jika dibenturkan dengan lawan kutubnya. Glegar! Gledek! Glegar! Gledek! begitulah bunyinya. Cengklang! Cengkling! Cengklang! Cengkling! begitulah kilatnya.

Ditempatkan di bagian inti bumi; bagian bumi yang paling dalam, dipojokan dan terlupakan. Terbakarlah ia saking panasnya.

Kini hatinya mudah marah jika ada yang bertukar pikiran atau nasib tentang kehidupan romansa dialektika dua sejoli belum sah, sesuai nalar dan berlogika, namun tidak berdasar moral beragama. Konon dulu, pernah ada hati lain yang mampir di hatinya, ngekos hingga ngontrak. Bertalu-talu lalu terdeterminasi menjadi ketetapan hati, menjadi rasa kemudian mati. Tapi kini, hati itu sudah kabur di bawa hati yang lain yang lebih luas, lebih putih, lebih mantap siulannya, lebih gagah riakkannya, lebih jernih airnya saking jernihnya katak sampai lupa daratan bahkan sampai lupa dia amfibi. Lebih terbukti pastinya.

Pernah satu waktu ada pihak yang ingin merekonsiliasikan hatinya dengan hati yang telah di ajak pergi oleh hati yang lain itu. Tapi sayang beribu sayang, tapi sayang berbapak sayang, tapi sayang berbibi sayang—jika dilanjutkan bisa sampai cicit-cucut-cecet. Hati lain itu tidak ingin kembali. Tidak ingin berekonsiliasi. Tidak ingin ngontrak dengan masa kontrak yang jangkanya saja tidak pasti. Reyot dan penuh petaka.

Ia sudah betah, gegap gempita, bahagia dengan hati yang membawanya pergi. Lebih tepatnya hati yang memberikannya kepastian, bukan kepalsuan. Memberikan bukti, bukan janji. Datang dengan gagah, bukan gegabah. Meminta restu, bukan merayu. Melewati jalan yang pantas, bukan pintas. I’tikadnya baik, bukan picik. Ikhtiarnya lurus, bukan jadi virus. Begitulah ia hingga akhirnya menjadi rumah indah bagi hati yang pergi itu hingga sakinahmawadahwarahmah. Hingga beranak-pinaklah hatinya melahirkan hati-hati suci yang lain. Hingga mautlah yang akan memisahkan dua hati itu. Apa-apaan ini?!

Determinasinya telah mati ditinggal pergi oleh hati yang telah cukup lama menetap namun tidak pernah ditetapkan sebagai bagian pelipur lara juga bahagia dalam hubungan yang benar-benar benar. Hati yang telah pergi telah meminta pula kepastian setiap hari: sehari tiga kali, malam, siang, pagi. Hati yang telah pergi telah lama pula tahan dari musim hujan ke delapan sampai musim kemarau ke sembilan. Hati yang telah pergi telah sabar pula hingga puncaknya terpapar pancaran kelakar dari persatuan setan dua sejoli hingga kalau bablas bisa jadi tiga sejoli kalo bablas lagi bisa jadi dua sejoli kembali.

Hati yang ditinggal kikuk berkalut itu akhirnya sadar bahwa determinasi yang mati adalah salahnya sendiri, tidak dan bukan salah hati yang membawa hati yang pernah ngontrak itu pergi. Kembali ia tercenung merenung di depan pematang, di bawah pohon, di atas bumi, ditemani senja makin merunduk yang sedikit lalu berbisik jahat namun baik. “Jika sudah siap baru datangilah, ketuklah dan ucapkan dengan takzim maksud dan tujuan dan visi-misi dan rencana dan harapan dan impian dan kepastian dan cita dan cinta dan lain-lain dan sebagainya dan seterusnya.” Ucapnya yakin serta kuat macam akar beringin umur 100 tahun tercekam erat sampai horizon tanah B dan hebatnya menyelisik lalu terserap ke bagian anatomi tubuh yang lain. Bergetar dan tersadar. Sekali lagi. Apa-apaan ini?!

Kuningan,
22 Juni 2018
Ibnu Dharma Nugraha