comment 0

Mereka yang Tidak Diketahui

Mereka datang membawa berita, yang dia kenang lalu dia lupa. Dipikir dia bukan hanya cerita, yang penuh iba dan sengsara. Dia mengikuti seolah mengerti, dia menghakimi seolah memahami, dia menyebarluaskan seolah mengasihani. Sebetulnya dan sebenarnya, dia tau bahwa dirinya belum banyak tau. Hanya tau seberapanya dari media, hanya tau seberapanya dari teman-temannya. Maka benarlah post truth era bekerja. Mempercayai apa yang mereka katakan. Tanpa mengerti duduk perkara masalahnya.

Dia-dia ini, yang berada di akar rumput. Mulai menggerutu, tak setuju. Memantik emosi dan juga api. Hingga menjadi bara kemudian membahara. Tahukah kamu? Bahwa, dia-dia ini pada mulanya adalah satu, Satu jadi seribu, seribu jadi dua ribu. Sebab, satu dia percaya apa yang belum dia ketahui. Satu dia datang ke dia yang lain, mengatakan yang belum ia ketahui itu. Dia yang lain percaya, seperti satu dia, dia yang lain mengatakan juga ke dia yang lainnya. Dan bahkan, pada kondisi ini efek domino bekerja. Lagi-lagi, post truth era berjaya.

Grup-grup yang tempo sore lalu sepi. Mulai ramai kembali, dengan emosi dan caci maki.

Mereka datang membawa berita, seolah ironi dan didzalimi. Visi-misinya tersembunyi, tidak diketahui oleh dia-dia di akar rumput tadi. Mereka ini datang dari langit, atau seolah langit. Datang dengan tujuan yang baik, atau seolah baik. Datang untuk suka cita, atau mungkin duka sungkawa. Ya, itulah mereka, tidak diketahui namun terlihat. Membodohi namun dipercayai.

Mereka ini ada di dekat-dekat kita. Kadang bersembunyi dengan menyamar menjadi akar-akar rumput. Satu dia yang tadi bisa jadi mereka. Dia yang lain juga sama, bisa jadi mereka. Maka, kuatkan ilmu, pengalaman, dan akal. Untuk tau, maksud saya, untuk benar-benar tau. Hingga suatu nanti, ketika akar-akar tadi menembus horizon tanah B dan rumput-rumput itu menjulang tinggi bak pohon kelapa. Akar rumput ini bisa dan bahkan mereformasi hingga revolusi mereka yang seolah berada di langit.

Mereka yang tidak diketahui ini sebetulnya juga tidak tau, bahwa akar rumput sedang berjuang. Bukan untuk mereka, tapi untuk kita.

comment 0

Mestinya Sih Rutin, Mestinya Sih, Mestinya

Kemarin hari saya datang ke kampus. Diajak teman untuk olahraga. Dikira saya seperti biasanya yaitu lari pagi. Tapi bukan, teman saya bilang olahraga Calisthenic. Saya bingung dan saya tanya. “Olahraga macam apa?”, tanya saya. Dia bilang coba Googling. Saya sedang malas buka browser. Lagi asik dengerin musik dan chat orang sana-sini. Tapi, saya setuju, karena memang saya suka olahraga. Badminton, lari pagi, bola bekel, dan PUBG. Kecuali yang jenis itu, ya kamu tau lah maksudnya. Apalagi buat laki-laki. Yang sering dijadikan bahan candaan.

Sepuluh menit kemudian dia jemput saya. Kos kami kebetulan berdekatan. Kampus juga berdekatan. Yang tidak dekat mungkin hubungin dia dengan pacarnya. Bukan saya yang bilang, tapi dia yang cerita. Ok skip.

Kampret!

Kami sampai di lokasi. Ketika itu saya sadar kalo ternyata olahraga Calisthenic itu olahraga berat. Saya akhirnya buka Google. Salah satu tujuan olahraga ini “katanya” buat ngebuat otot jadi makin otot. Yang kalo di perut jadi kotak-kotak. Yang kalo di tangan bentuknya jadi kaya paha ayam. Kira-kira gitu.

Saya agak kaget. Otot saya juga kaget. Apalagi bagian lengan. Yang dipaksa untuk ngangkat badan. Yang bentuknya masih belum kaya paha ayam. Yang lebih mirip lidi lima ratusan. Yang kalo ditekuk tetap sama aja. Sejujurnya saya jarang olahraga kaya gini, terakhir rutin mungkin waktu SMA. Baru tiga kali pull up lengan saya menyerah. Tapi tidak apa-apa. Setidaknya sudah mencoba. Dasar, lengan yang malang.

Teman saya itu ternyata sudah sering nge-gym. Langganan di tempat gym kampus. Saya lihat daftar hadirnya juga rutin. Seminggu bisa beberapa kali. Pull up barangkali sudah tidak ada apa-apanya.

Adam Grant. Profesor di bidang psikologi pernah bilang kalo kuantitas menghasilkan kualitas. Semakin banyak kita mencoba, semakin kita terbiasa. Kira-kira gitu.

Sepertinya, selain badminton, lari pagi ataupun olahraga PUBG. Saya mesti lakuin olahraga yang kaya gini. Setidaknya,,,,, tiga bulan sekali. Ya, hanya sekali.

Malang,
4 April 2019
Ibnu Dharma Nugraha

comment 0

Bebas Lepas Beban Berat

Semisal ada yang tanya ke saya siapa pemberi kebebasan terbesar. Saya bisa jawab kedua orang tua saya. Ayah dan Ibu saya. Pahlawan Negara? Mereka juga punya andil, tetapi selama 20 tahunan saya hidup ini bisa dibilang Ayah dan Ibu sayalah yang membebaskan saya untuk memilih apapun. Pertanyaannya justru, apakah ini suatu hal yang memberatkan atau menyenangkan? Apalagi menjelang fase dewasa. Hmm.

Semasa masuk SMP dulu saya pernah diterima di dua sekolah yang cukup bergengsi. Yang satu ada di Kota: SMP favorit. Yang satu di Desa: Pesantren favorit. Saya pilih pesantren. Sebab, impiannya dulu bisa punya ranjang dan lemari. Punya sendiri. Belajar mandiri. Orang tua mengizinkan, hingga saya belajar beberapa bulan. Tapi, menjelang tahun ke-dua, saya mulai tidak betah. Ibu saya datang ke pesantren itu. Kami berbincang cukup lama. Yang saya ingat beliau bilang untuk tetap melanjutkan hingga tahun ke-tiga. Maklum, biaya untuk masuk pesantren itu cukup mahal. Ada uang bangunannya. Yang bisa sampai jutaan. Yang beberapa orang membatalkan karena biaya masuknya. Zaman itu merupakan angka yang besar. Setidaknya bagi keluarga kami.

Selepas sekolah di pesantren itu. Di tahun ke-tiga. Saya bilang mau pindah ke sekolah negeri. Yang sistemnya beda dengan pesantren saya dulu. Yang tidak terlalu ketat aturannya. Yang biayanya lebih murah. Yang bisa pulang ke rumah tiap saat. Dan yang ada perempuannya di kelas. Ayah saya mengizinkan lagi, pun dengan ibu saya. Saya diterima walaupun bukan yang favorit di kota. Saya juga diizinkan membawa motor ke sekolah itu. Tapi di tahun ke-dua, setelah saya punya KTP dengan SIMnya.

Hingga kuliah. Saya kembali memutuskan sendiri. Ayah saya sebetulnya ingin saya masuk AKPOL. Meneruskan pekerjaan beliau, di kepolisian. Yang pendaftarnya banyak. Masuknya susah. Seleksinya ketat. Tapi, saya pernah kecelakaan di kelas dua SMA: ketika main bola. Yang menyebabkan gigi saya rusak. Saya gagal sebelum mencoba. Padahal, sudah cukup menyiapkan.

Tapi, ayah bilang setiap orang ada rezekinya. Ada jalur tangannya. Ada jalannya. Tekad saya bulat untuk merantau. Pergi ke kota nun jauh di sana. Adat berbeda. Orang berbeda. Beberapa makanan berbeda. Tapi tetap sama, satu Indonesia. Di pulau jawa: Jawa Timur. Berjarak beberapa provinsi dari provinsi saya tinggal: Jawa Barat.

Perguruan tinggi bebas untuk saya pilih. Jurusan pun demikian. Tempat tinggal. Pergaulan. Tidak pernah ditanya mau jadi apa. Hidup memang mengalir. Termasuk keputusan saya pada saat itu.

Hingga titik akhir kuliah ini. Orang tua dan keluarga lagi-lagi memberikan kebebasan. Akan S-2. Ataupun kerja. Ataupun wirausaha. Ataupun ikut kegiatan sosial nun lebih jauh lagi di sana. Selalu membebaskan. Asalkan senang juga bermanfaat. Asalkan bisa hidup dari pilihan yang diambil.

Kebebasan selalu menyenangkan. Tidak ada kekangan. Bebas pilihan. Tidak ada alasan. Tapi. Ada kewajiban dalam kebebasan. Mau jadi apa kita. Bisa apapun. Mau dimana kita. Bisa dimanapun. Bertanggung jawabkah kita. Tidak bisa dilakukan oleh siapapun.

Malang,
2 April 2019
Ibnu Dharma Nugraha